As Sunah, Fiqih, Puasa (Ramadhan)

Ingin I’tikaf Tapi Orang Tua Melarang


Pertanyaan:

ﻣﺎ ﺍﻟﺤﻜﻢ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﺴﻤﺢ ﺍﻟﻮﺍﻟﺪ ﻟﻮﻟﺪﻩ‎ ‎ﺑﺎﻻﻋﺘﻜﺎﻑ ﻭﺑﺄﺳﺒﺎﺏ ﻏﻴﺮ ﻣﻘﻨﻌﺔ؟

Apa hukum jika orang tua tidak mengizinkan anak untuk i’tikaf dengan alasan yang tidak memuaskan?

ﻓﺄﺟﺎﺏ ﻓﻀﻴﻠﺘﻪ ﺑﻘﻮﻟﻪ: ﺍﻻﻋﺘﻜﺎﻑ ﺳﻨﺔ،‏‎ ‎ﻭﺑﺮ ﺍﻟﻮﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺍﺟﺐ، ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﻻ ﻳﺴﻘﻂ ﺑﻬﺎ‎ ‎ﺍﻟﻮﺍﺟﺐ، ﻭﻻ ﺗﻌﺎﺭﺽ ﺍﻟﻮﺍﺟﺐ ﺃﺻﻼً، ﻷﻥ‎ ‎ﺍﻟﻮﺍﺟﺐ ﻣﻘﺪﻡ ﻋﻠﻴﻬﺎ، ﻭﻗﺪ ﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻲ‎ ‎ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﻘﺪﺳﻲ: »ﻣﺎ ﺗﻘﺮﺏ ﺇﻟﻲَّ ﻋﺒﺪﻱ‎ ‎ﺑﺸﻲﺀ ﺃﺣﺐ ﺇﻟﻲّ ﻣﻤﺎ ﺍﻓﺘﺮﺿﺖ ﻋﻠﻴﻪ «‏‎ ‎ﻓﺈﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺃﺑﻮﻙ ﻳﺄﻣﺮﻙ ﺑﺘﺮﻙ ﺍﻻﻋﺘﻜﺎﻑ‎ ‎ﻭﻳﺬﻛﺮ ﺃﺷﻴﺎﺀ ﺗﻘﺘﻀﻲ ﺃﻥ ﻻ ﺗﻌﺘﻜﻒ، ﻷﻧﻪ‎ ‎ﻣﺤﺘﺎﺝ ﺇﻟﻴﻚ ﻓﻴﻬﺎ، ﻓﺈﻥ ﻣﻴﺰﺍﻥ ﺫﻟﻚ ﻋﻨﺪﻩ‎ ‎ﻭﻟﻴﺲ ﻋﻨﺪﻙ، ﻷﻧﻪ ﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﻤﻴﺰﺍﻥ‎ ‎ﻋﻨﺪﻙ ﻏﻴﺮ ﻣﺴﺘﻘﻴﻢ ﻭﻏﻴﺮ ﻋﺪﻝ

Jawaban:

I’tikaf hukumnya sunnah sedangkan berbakti kepada orang tua hukumnya wajib. Sunnah tidak bisa gugur dengan yang wajib. Tidak boleh dipertentangkan yang wajib sama sekali karena wajib harus didahulukan. Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi,

“Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Aku cintai.”

Jika ayahmu memerintahkanmu agar tidak i’tikaf dan memerintahkan yang lain, maka hendaknya jangan i’tikaf karena orang tuamu membutuhkannya. Timbangannya adalah ada padanya bukan padamu karena bisa jadi timbangan menurutmu tidak sesuai dan tidak adil. [1]

Kasus di atas sama dengan kasus antara jihad yang sunnah dan berbakti kepada orang tua. Jika orang tua tidak mengizinkan pergi berperang dalam jihad yang sunnah maka tidak boleh ikut berperang. Sebagaimana dalam hadits,

ﻋﻦ ﻋَﺒْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦَ ﻋَﻤْﺮٍﻭ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ‎ ‎ﻳَﻘُﻮﻝُ ) ﺟَﺎﺀَ ﺭَﺟُﻞٌ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ‏‎ ‎ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﺎﺳْﺘَﺄْﺫَﻧَﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠِﻬَﺎﺩِ ﻓَﻘَﺎﻝَ‏‎ ‎ﺃَﺣَﻲٌّ ﻭَﺍﻟِﺪَﺍﻙَ ﻗَﺎﻝَ ﻧَﻌَﻢْ ﻗَﺎﻝَ ﻓَﻔِﻴﻬِﻤَﺎ‎ ‎ﻓَﺠَﺎﻫِﺪْ (.

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Pernah seseorang mendatangi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lalu ia minta izin untuk berjihad, Lalu Beliau bertanya: “Apakah kedua orang tua masih hidup?” Orang itu menjawab: ”Iya.” Beliau bersabda: “Berjihadlah dalam mengurus keduanya.” [2]

dan hadits,

ﻋَﻦْ ﻣُﻌَﺎﻭِﻳَﺔَ ﺑْﻦِ ﺟَﺎﻫِﻤَﺔَ، ﺃَﻥَّ ﺟَﺎﻫِﻤَﺔَ‏‎ ‎ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ، ﺃَﺗَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ‏‎ ‎ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻘَﺎﻝَ: ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺭَﺩْﺕُ ﺃَﻥْ ﺃَﻏْﺰُﻭَ‏‎ ‎ﻓَﺠِﺌْﺖُ ﺃَﺳْﺘَﺸِﻴﺮُﻙَ. ﻗَﺎﻝَ: »ﺃَﻟَﻚَ ﻭَﺍﻟِﺪَﺓٌ؟ «‏‎ ‎ﻗَﺎﻝَ: ﻧَﻌَﻢْ، ﻗَﺎﻝَ: »ﺍﺫْﻫَﺐْ ﻓَﺎﻟْﺰَﻣْﻬَﺎ، ﻓَﺈِﻥَّ‏‎ ‎ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻋِﻨْﺪَ ﺭِﺟْﻠَﻴْﻬَﺎ « ﻫَﺬَﺍ ﺣَﺪِﻳﺚٌ ﺻَﺤِﻴﺢُ‏‎ ‎ﺍﻟْﺈِﺳْﻨَﺎﺩِ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﺨَﺮِّﺟَﺎﻩُ.

“Mu’awiyah bin Jahimah meriwayatkan bahwa Jhimah radhiyallahu ‘anhu pernah mendatangi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata: “Sungguh aku ingin berperang, dan aku datang meminta petunjuk kepada engkau?” Beliau bersabda: “Apakah kamu memiliki ibu?” Ia menjawab: “Iya.” Beliau bersabda: “Pergilah dan tinggallah bersamanya, karena sesungguhnya surga pada kedua kakinya.” [3]

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Catatan kaki:
[1] Majmu’ fatawa wa Rasail 20/159, syamilah.

[2] HR. Bukhari.

[3] HR. Al Hakim, shahih.

Sumber: http://muslimafiyah.com/ingin-itikaf-tapi-orang-tua-melarang.html

About barifbrave

Bismillah, Rising Star Moslem Legend, Amin

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Tulisan

Arsip per Bulan

Masukkan alamat e-mail Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui e-mail.

Join 1,985 other followers

%d bloggers like this: