As Sunah, Fiqih, Puasa (Ramadhan)

Hukum Memakai Celak, Lipstik dan Make-Up Ketika Puasa


Lipstik dan make-up termasuk barang kontemporer. Bagaimana jika dipakai? Apakah membatalkan puasa? Demikian juga celak, hal ini diperselisihkan oleh ulama apakah membatalkan puasa atau tidak.

Pertanyaan diajukan kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah:

ﺱ: ﻣﺎ ﺣﻜﻢ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺍﻟﻜﺤﻞ ﻭﺑﻌﺾ‎ ‎ﺃﺩﻭﺍﺕ ﺍﻟﺘﺠﻤﻴﻞ ﻟﻠﻨﺴﺎﺀ ﺧﻼﻝ ﻧﻬﺎﺭ‎ ‎ﺭﻣﻀﺎﻥ؟ ﻭﻫﻞ ﺗﻔﻄﺮ ﻫﺬﻩ ﺃﻡ ﻻ؟

Apa hukum menggunakan celak dan sebagian alat-alat kecantikan bagi wanita di siang hari bulan Ramadhan? Apakah membatalkan puasa atau tidak?

ﺝ: ﺍﻟﻜﺤﻞ ﻻ ﻳﻔﻄﺮ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻭﻻ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ‎ ‎ﻓﻲ ﺃﺻﺢ ﻗﻮﻟﻲ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻣﻄﻠﻘﺎ، ﻭﻟﻜﻦ‎ ‎ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻟﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﺃﻓﻀﻞ ﻓﻲ ﺣﻖ‎ ‎ﺍﻟﺼﺎﺋﻢ. ﻭﻫﻜﺬﺍ ﻣﺎ ﻳﺤﺼﻞ ﺑﻪ ﺗﺠﻤﻴﻞ‎ ‎ﺍﻟﻮﺟﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺎﺑﻮﻥ ﻭﺍﻷﺩﻫﺎﻥ ﻭﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ‎ ‎ﻣﻤﺎ ﻳﺘﻌﻠﻖ ﺑﻈﺎﻫﺮ ﺍﻟﺠﻠﺪ، ﻭﻣﻦ ﺫﻟﻚ‎ ‎ﺍﻟﺤﻨﺎﺀ ﻭﺍﻟﻤﻜﻴﺎﺝ ﻭﺃﺷﺒﺎﻩ ﺫﻟﻚ، ﻛﻞ ﺫﻟﻚ ﻻ‎ ‎ﺣﺮﺝ ﻓﻴﻪ ﻓﻲ ﺣﻖ ﺍﻟﺼﺎﺋﻢ، ﻣﻊ ﺃﻧﻪ ﻻ‎ ‎ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺍﻟﻤﻜﻴﺎﺝ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻳﻀﺮ‎ ‎ﺍﻟﻮﺟﻪ. ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻭﻟﻲ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ.

Celak tidak membatalkan puasa secara mutlak pada wanita maupun laki-laki menurut pendapat yang terkuat dari dua pendapat ulama. Akan tetapi menggunakannya pada malam hari lebih baik bagi orang berpuasa.

Demikian juga pada alat kecantikan berupa sabun dan minyak-minyak yang bersentuhan dengan kulit. Termasuk juga ‘hina’ (pewarna kuku) atau make-up dan lain-lain. Semua ini tidak mengapa digunakan oleh orang yang berpuasa. Akan tetapi tidak selayaknya menggunakan make-up jika membahayakan bagi wajah. Wallahu waliyut taufiq. [1]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya,

ﺳﺌﻞ ﻓﻀﻴﻠﺔ ﺍﻟﺸﻴﺦ – ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ‎ ‎‏:- ﻋﻦ ﺣﻜﻢ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺍﻟﺼﺎﺋﻢ ﻣﺮﻫﻤﺎً‏‎ ‎ﻹﺯﺍﻟﺔ ﺍﻟﺠﻔﺎﻑ ﻋﻦ ﺍﻟﺸﻔﺘﻴﻦ؟

Syaikh ditanya mengenai hukum seseorang yang berpuasa menggunakan pelembab bibir (lipstik) untuk mencegah kekeringan pada bibir.

ﻓﺄﺟﺎﺏ ﻓﻀﻴﻠﺘﻪ ﺑﻘﻮﻟﻪ: ﻻ ﺑﺄﺱ ﺃﻥ‎ ‎ﻳﺴﺘﻌﻤﻞ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻣﺎ ﻳﻨﺪﻱ ﺍﻟﺸﻔﺘﻴﻦ‎ ‎ﻭﺍﻷﻧﻒ ﻣﻦ ﻣﺮﻫﻢ، ﺃﻭ ﻳﺒﻠﻪ ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ، ﺃﻭ‎ ‎ﺑﺨﺮﻗﺔ ﺃﻭ ﺷﺒﻪ ﺫﻟﻚ، ﻭﻟﻜﻦ ﻳﺤﺘﺮﺯ ﻣﻦ ﺃﻥ‎ ‎ﻳﺼﻞ ﺷﻲﺀ ﺇﻟﻰ ﺟﻮﻓﻪ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺬﻱ‎ ‎ﺃﺯﺍﻝ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺨﺸﻮﻧﺔ، ﻭﺇﺫﺍ ﻭﺻﻞ ﺷﻲﺀ‎ ‎ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻗﺼﺪ ﻓﻼ ﺷﻲﺀ ﻋﻠﻴﻪ، ﻛﻤﺎ ﻟﻮ‎ ‎ﺗﻤﻀﻤﺾ ﻓﻮﺻﻞ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺇﻟﻰ ﺟﻮﻓﻪ ﺑﻼ‎ ‎ﻗﺼﺪ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﻔﻄﺮ ﺑﻬﺬﺍ.

Beliau menjawab:

Tidak mengapa seseorang menggunakan apa yang bisa melembabkan bibir dan hidung berupa pelembab atau membasahinya dengan air, dengan potongan kain atau semisalnya. Akan tetapi hendaknya ia menjaga agar tidak tertelan sampai ke perutnya. Jika sampai tertelan tanpa sengaja maka tidak mengapa. Sebagaimana jika ia berkumur-kumur kemudian airnya masuk sampai perut tanpa sengaja maka tidak membatalkan puasa. [2]

Penerjemah: dr. Raehanul Bahraen

Catatan kaki:
[1] Majmu’ Fatawa bin Baz 15/260, bisa di akses di:http://ar.islamway.net/fatwa/255
[2] Majmu’ Fatawa wa Rasail 19/224, syamilah.

Sumber: http://muslimafiyah.com/hukum-memakai-celak-lipstik-dan-make-up-ketika-puasa.html

About barifbrave

Bismillah, Rising Star Moslem Legend, Amin

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Tulisan

Arsip per Bulan

Masukkan alamat e-mail Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui e-mail.

Join 1,985 other followers

%d bloggers like this: