As Sunah, Fiqih

PERSAKSIAN DALAM MENENTUKAN HILAL RAMADHAN DAN SYAWAL


Soal: Apakah diterima persaksian satu orang dalam menentukan rukyah hilal bulan Ramadhan?

Jawab:

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Adapun pendapat yang paling kuat adalah pendapat jumhur ulama, yaitu diterimanya persaksian satu orang yang telah melihat hilal Ramadhan. Dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Umar:

ﻋَﻦْ ﺍﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮَ ﻗَﺎﻝَ : »ﺗَﺮَﺍﺀَﻯ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ‏‎ ‎ﺍﻟْﻬِﻠَﺎﻝَ ﻓَﺄَﺧْﺒَﺮْﺕُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ‏‎ ‎ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﻧِّﻲ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻪُ ﻓَﺼَﺎﻡَ ﻭَﺃَﻣَﺮَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ‏‎ ‎ﺑِﺼِﻴَﺎﻣِﻪِ «.

“Kaum muslimin saling berusaha melihat hilal. Maka aku kabarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya aku melihat hilal. Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berpuasa serta memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.” (HR. Abu Dawud dan Ad Daruquthny, sanadnya hasan, dishahihkan Syaikh Al Albani dan Muqbil)

Tidaklah dipersyaratkan dalam persaksian melihat hilal Ramadhan harus laki-laki merdeka. Diterima pula persaksian dari satu orang perempuan dan juga seorang budak.

Yang dipersyaratkan adalah dia orang yang adil (jujur dan takwa) dan mukallaf. Mukallaf adalah muslim yang berakal dan sudah baligh, baik laki-laki maupun perempuan. Sehingga apabila datang anak kecil bersaksi: “Aku telah melihat hilal”, maka persaksian anak kecil tersebut tidaklah diterima karena belum mukallaf.

Persaksian orang gila juga tidaklah diterima karena dia tidak berakal. Kemudian orang asing yang tidak diketahui kejujurannya, apakah dia orang fasik, karena persaksian orang fasik tidaklah diterima, karena syaratnya adalah harus orang yang adil (jujur dan takwa).

Soal: Apakah diterima persaksian satu orang dalam menentukan rukyah masuknya bulan Syawal?

Jawab:

Para ulama juga berbeda pendapat dalam masalah ini. Namun pendapat yang paling kuat adalah dipersyaratkan dalam menentukan hilal ‘Idul Fitri (bulan Syawal) adalah harus dua orang yang adil. Ini adalah pendapat yang dipilih kebanyakan para ulama. Dengan dalil:

ﻋَﻦْ ﺃَﻣِﻴﺮِ ﻣَﻜَّﺔَ ﺍﻟْﺤَﺎﺭِﺙِ ﺑْﻦِ ﺣَﺎﻃِﺐٍ ﻗَﺎﻝَ :‏‎ ‎ﻭﻓﻴﻪ »ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﻧَﺮَﻩُ ﻭَﺷَﻬِﺪَ ﺷَﺎﻫِﺪَﺍ ﻋَﺪْﻝٍ‏‎ ‎ﻧَﺴَﻜْﻨَﺎ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺗِﻬِﻤَﺎ «.

“Dari Amir Makkah Al Harits bin Hathib: “Dahulu di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila kita tidak melihat hilal dan ada dua orang yang adil bersaksi (telah melihat hilal ‘Idul Adha) maka kita sembelih kurban kita dengan persaksian mereka. (HR. Abu Dawud dan Ad Daruquthny – sanadnya hasan, dishahihkan Syaikh Al Albani)

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻭَﺍﺋِﻞٍ ﻗَﺎﻝَ: ﻛَﺘَﺐَ ﺇِﻟَﻴْﻨَﺎ ﻋُﻤَﺮُ ﻭَﻧَﺤْﻦٌ‏‎ ‎ﺑَﺨَﺎﻧِﻘِﻴﻦَ: “ﺇِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻢُ ﺍﻟْﻬِﻠَﺎﻝَ ﻧَﻬَﺎﺭًﺍ ﻓَﻠَﺎ‎ ‎ﺗُﻔْﻄِﺮُﻭﺍ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺸْﻬَﺪَ ﺭَﺟُﻠَﺎﻥِ ﺃَﻧَّﻬُﻤَﺎ ﺭَﺃَﻳَﺎﻩُ‏‎ ‎ﺑِﺎﻟْﺄَﻣْﺲِ.

“Dari Abu Wa’il: Bahwa Umar radhiyallohu ‘anhu mengirimkan risalah dan kami berada di daerah Khoniqoin:”Apabila kalian telah melihat hilal di siang hari maka janganlah kalian berbuka (puasa) sampai ada dua orang yang bersaksi bahwasanya mereka telah melihat hilal kemarin.” (HR. Abdurazaq, Ibnu abi Syaebah, Ad Daruqthny dan Al Baihaqy-sanadnya shohih, dishahihkan Syaikh Abdurahman Al Adeni)

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻋُﻤَﻴْﺮِ ﺑْﻦِ ﺃَﻧَﺲٍ ﻋَﻦْ ﻋُﻤُﻮﻣَﺔٍ ﻟَﻪُ‏‎ ‎ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ‏‎ ‎ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﻥَّ ﺭَﻛْﺒًﺎ ﺟَﺎﺀُﻭﺍ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ‎ ‎ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﺸْﻬَﺪُﻭﻥَ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﺭَﺃَﻭْﺍ‎ ‎ﺍﻟْﻬِﻠَﺎﻝَ ﺑِﺎﻟْﺄَﻣْﺲِ ﻓَﺄَﻣَﺮَﻫُﻢْ ﺃَﻥْ ﻳُﻔْﻄِﺮُﻭﺍ ﻭَﺇِﺫَﺍ‎ ‎ﺃَﺻْﺒَﺤُﻮﺍ ﺃَﻥْ ﻳَﻐْﺪُﻭﺍ ﺇِﻟَﻰ ﻣُﺼَﻠَّﺎﻫُﻢْ.

“Rombongan shahabat datang berkendaraan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka bersaksi bahwa mereka telah melihat hilal (Syawal) kemarin. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kaum muslimin untuk berbuka dan jika telah tiba esok pagi hari hendaknya mereka bersegera menuju mushola (lapangan untuk sholat Ied). (HR. Abu Dawud, An Nasai, Ibnu Majah-Sanadnya Shohih, dishahihkan Syaikh Al Albani dan Muqbil)

Dalam hadits-hadits tersebut menunjukan bahwa dipersyaratkanya dua saksi dalam persaksian menentukan hilal Syawal, tidak cukup dengan satu orang.

PERINGATAN:

Hilal Syawal dan hilal pada bulan yang lainnya –selain Ramadhan– dipersyaratkan dalam syariat Islam harus disaksikan oleh dua orang atau lebih.

Wallahu a’lam bish shawab.

Ditulis oleh Abu ‘Ubaidah Iqbal bin Damiri Al Jawi, 13 Syakban 1435/11 Juni 2014_di Darul Hadits Al Fiyusy_ Harasahallah.

Sumber: http://salafy.or.id/blog/2014/06/25/fatwa-ringkas-seputar-puasa-bagian-pertama/

About barifbrave

Bismillah, Rising Star Moslem Legend, Amin

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Tulisan

Arsip per Bulan

Masukkan alamat e-mail Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui e-mail.

Join 1,985 other followers

%d bloggers like this: