Khilafah, Tauhid

Ternyata, HT pun Gemar Merubah Isi Kitab.


Taqiyyuddin an Nabhani Masih Hidup ?

Oleh : KOMA HT

Taqiyuddin An NabhaniSalah satu ciri kebenaran Islam yang tidak dimiliki oleh agama selainnya adalah terjaganya riwayat riwayat agama dari segala macam bentuk gubahan baik tambahan maupun pengurangan maupun riwayat riwayat palsu yang baru dan diada adakan, sementara agama selain Islam telah rusak riwayat riwayat ajaran agamanya, telah ditambahi, dikurangi, disembunyikan, disamarkan, dan digubah sesuai dengan keinginan dan pemikiran penggubahnya kemudian di nisbahkan kembali kepada Allah dan Rasul Nya seakan akan itu wahyu padahal buatan tangan mereka belaka.

Alloh berfirman yang artinya :

Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kamu menyangka apa yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan: ini dari sisi Allah, padahal bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui. (QS. 3:78)

Islam memiliki para ahlul hadits yang dari fajar hingga senja menyibukkan diri meneliti jalannya riwayat sebuah wahyu, berjalan ribuan kilometer demi memastikan wahyu tersebut asli tidak ada satu hurufpun yang tercecer atau terpalsukan, menyibukkan diri dalam mencari, menghafal, meneliti, dan mengajarkan riwayat riwayat wahyu yang benar-benar berasal dari lisan dan perbuatan utusan Alloh. Mereka inilah sebenar benar penjaga agama Alloh, pejuang syari’at sejati.

Bagi Islam kejujuran atsar adalah utama, dan kebohongan atsar meskipun itu demi kebaikan tetaplah tercela selamanya. Meskipun demikian banyak ditemukan para pemalsu riwayat dalam tubuh kaum muslimin, dan sebagian besar dari mereka memalsukan riwayat dengan alasan demi kebaikan kaum muslimin, dan demi kemuliaan Islam.

Ibnu Mahdy pernah bertanya kepada Maisarah bin Abdi Rabbihi, “Dari mana kamu dapatkan hadits “Barang-siapa yang membaca ini maka akan begini?” Ia menjawab. “Aku memalsukannya untuk menyemangati manusia.”

Bahkan sebagian dari kaum Karamiyyah ada yang berkata: “Kami tidak berdusta atas nama Rasulullah, tapi kami berdusta untuk kepentingan Rasulullah”

Mereka membuat riwayat baru atau menggubah redaksi riwayat lama dengan tujuan menyemangati manusia untuk berbuat baik, atau memperingatkan mereka agar tidak berbuat kemungkaran, sungguh tujuan mulia namun cara yang dilakukan sangatlah tercela disisi Alloh dan Rasul Nya.

Rasul bersabda :

“Barangsiapa menyampaikan suatu perkataan dariku yang telah diketahui bahwa itu adalah kedustaan yang dibuat-buat, maka ia termasuk salah seorang pendusta.” (HR. Muslim)

Namun betapapun banyak para pemalsu riwayat tak kan lepas mereka dari kejaran ahlul hadits yang senantiasa menjaga agama ini dalam kemurniannya, dan tiap 100 tahun Alloh hadirkan seorang mujadid ahlul hadits yang akan memurnikan kembali ajaran Islam dari kejahilan para pemalsu riwayat.

Sabda Rasulullah, dari Abu Hurairah:
“Alloh mengutuskan pada ummat ini di setiap awal 100 tahun, orang yang akan memperbaharui urusan agama-Nya (mujaddid)”
Dari Sunan Abu Dawud, Kitab 37, Al Malahim.

Sungguh segala puji bagi Alloh yang telah menjaga al Qur’an dan Sunnah dari kejahilan para pemalsu riwayat dengan menurunkan para ahlul hadits.

Sungguh ummat Islam harus terus menjaga kemurnian agamanya, sebab inilah bukti kebenaran Islam. Sungguh ummat Islam harus berlatih untuk jujur pada agamanya, mengatakan sesuatu dan menyandarkan sesuatu jelas pada sumber yang sebenarnya.

Namun meskipun al Qur’an dan as Sunnah terjaga kemurniannya akan tetapi tidak halnya dengan kalam para ulama besar Islam yang hingga kini kian banyak disimpangkan, digubah sesuai dengan keinginan dan pemikiran masing-masing, dan alangkah mudahnya kita menemukan perbedaan kalam ulama yang sama dalam kitab yang sama namun berbeda isi disebabkan penerbit yang berbeda, waliyaudzubillah.

Bahkan saat ini orang tidak bisa berpatokan pada judul dan ulama pengarang sebuah kitab, namun mesti melihat juga siapa penerbitnya dan kapan diterbitkannya karena beda penerbit dan beda tahun terbit berarti beda isi meskipun kitabnya sama.

Inilah kecelakaan terbesar bagi ummat Islam, dan inilah perilaku kaum musyrikin yang mulai diikuti oleh sebagian besar kelompok Islam, wallahul musta’an.

Salah contoh yang cukup mengagetkan yang saya temukan adalah perilaku Hizbut Tahrir Indonesia yang menggubah kitab kitab lama mereka sehingga tahun demi tahun terjadi kian banyak perubahan namun tetap disandarkan pada ulama yang menulis pertama kali, seakan akan ulama tersebut masih hidup dan merevisi kitabnya sendiri saat ini.

Puluhan tahun lalu ketika saya masih aktif di Hizbut Tahrir saya memiliki sebuah kitab rujukan dengan spesifikasi sebagai berikut :

Peraturan Hidup Dalam IslamJudul Asli : Nizhamul IslamPenulis : Taqiyyuddin An NabahaniAl Quds 1372 H – 1953 MPenerjemah : Abu Amin, dkkPenyunting : A.R. Nasser, Ir. A. SaifullahPenata Letak : N. a. RasyidPenerbit : Pustaka Thariqul ‘Izzah IndonesiaCetakan II (revisi)April 1993

Kemudian baru baru ini saya memperoleh kitab dengan judul dan pengarang yang sama dengan spesifikasi sebagai berikut :

Judul Asli: Nizham Al-IslamPengarang: Taqiyuddin An-NabhaniDikeluarkan oleh Hizbut TahrirCetakan ke-1: 1953 M/ 1372 HCetakan ke-6: 2001 M/ 1422 HEdisi Mu’tamadahEdisi IndonesiaPenerjemah: Abu Amin, dkkPenyunting: Tim HTI-PressPenata Letak: AnwariDesain Sampul: HanafiPenerbit: Hizbut Tahrir Indonesia, Gedung Anakida Lt.7 Jl. Prof. Soepomo No.27 Tebet, Jakarta Selatan, Telp. 021-8353254

Dan pada mulanya saya beranggapan kitab tersebut pastilah sama isinya karena judul kitab dan pengarangnya jelas sama, namun ketika saya cek ternyata sungguh diluar dugaan bukan hanya tata bahasanya yang diubah namun banyak hal-hal baru yang berbeda sama sekali dari kitab asalnya.

Dan yang sangat menyedihkan ternyata kitab baru tersebut masih disandarkan pada penulis lamanya seorang yaitu Taqiyyuddin an Nabhani yang telah wafat puluhan tahun yang lalu.

Sehingga kaum muslimin yang baru mengenal kitab tersebut pasti akan beranggapan kitab tersebut adalah asli tulisan Taqiyyuddin an Nabhani apa adanya sebagaimana ia tulis puluhan tahun yang lalu.

Contoh gubahan kitab tersebut misalnya pada bab Jalan Menuju Iman terdapat perkataan pada kitab lama sebagai berikut :

yaitu apa-apa yang telah ditetapkan oleh al Qur’an dan hadits mutawatir.

Namun pada kitab baru tertulis sebagai berikut :

yaitu apapun yang telah ditetapkan oleh Al-Quran dan hadits qath’i -yaitu hadits mutawatir-.

Dapat dilihat pada kata hadits mutawatir yang di buku lama adalah tulisan asli namun dibuku baru hanyalah sebuah penjelasn yang diapit tanda strip sementara kata aslinya diubah menjadi hadits qath’i.

Gubahan diatas memang tidaklah terlalu mencolok dan mungkin bisa ditolerir meskipun secara kaidah sudah tidak boleh dinisbahkan pada penulis lamanya.

Namun terdapat gubahan yang benar benar mencolok yaitu padaBab Rancangan Undang-undang Dasar yang di buku lama terdiri dari 187 Pasal RUUD namun pada buku yang baru terdapat 190 Pasal RUUD dan inipun dinisbahkan pada penulis lamanya.

Berikut beberapa contoh gubahan isi kitab Nidzamul Islam karya Taqiyyuddin yang kitab hasil gubahan tersebut masih disandarkan pada penulis lamanya juga yaitu Taqiyyuddin saja :

Pada Nidzamul Islam cetakan ke-2 tertulis :

Pasal 33
Tata cara pengangkatan khalifah adalah sebagai berikut :
(a) Anggota majlis ummat dari kalangan kaum muslimin mengajukan beberapa calon untuk kedudukan ini, lalu nama-nama mereka diumumkan, dan kaum muslimin diminta untuk memilih salah satu diantaranya.
(b) Hasil pemilihan diumumkan, sehingga kaum muslimin mengetahui siapa yang mendapat suara terbanyak dari para calon.
(c) Anggota majlis ummat tersebut segera membaiat siapa yang mendapatkan suara terbanyak sebagai khalifah untuk menjalankan pemerintahan berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
(d) Setelah pelaksanaan bai’at sempurna, diumumkan kepada khalayak siapa yang menjadi khalifah kaum muslimin, sehingga berita pengangkatannya sampai ke seluruh ummat, dengan mengumumkan namanya dan sifat-sifat yang menjadikannya pantas untuk diangkat sebagai kepala negara.

Namun pada Nidzamul Islam cetakan ke-6 tertulis :

Pasal 33
Diangkat amir sementara untuk menangani urusan kaum Muslim dan melaksanakan proses pengangkatan Khalifah yang baru setelah kosongnya jabatan Khilafah sebagai berikut:
a. Khalifah sebelumnya, ketika merasa ajalnya sudah dekat atau bertekad untuk mengundurkan diri, ia memiliki hak menunjuk amir sementara
b. Jika Khalifah meninggal dunia atau diberhentikan sebelum ditetapkan amir sementara, atau kosongnya jabatan Khilafah bukan karena meninggal atau diberhentikan, maka Mu’awin yang paling tua usianya menjadi amir sementara, kecuali jika ia ingin mencalonkan diri untuk jabatan Khilafah, maka yang menjabat amir sementara adalah Mu’awin (Mu’awin Tafwidl, pen.) yang lebih muda, dan seterusnya.
c. Jika semua Mu’awin ingin mencalonkan diri maka Mu’awin Tanfizh yang paling tua menjadi amir sementara, jika ia ingin mencalonkan diri maka yang lebih muda berikutnya, dan demikian seterusnya.
d. Jika semua Mu’awin Tanfizh ingin mencalonkan diri untuk jabatan Khilafah maka amir sementara dibatasi pada Mu’awin Tanfizh yang paling muda.
e. Amir sementara tidak memiliki wewenang melegislasi hukum.
f. Amir sementara diberikan keleluasaan untuk melaksanakan secara sempurna proses pengangkatan Khalifah yang baru dalam tempo tiga hari. Tidak boleh diperpanjang waktunya kecuali karena sebab yang memaksa atas persetujuan Mahkamah Mazhalim.

Dapat kita lihat betapa isi pasal 33 pada cetakan ke-2 berbeda 100% dengan isi pasal 33 pada cetakan ke-6.
Rupanya pasal 33 pada cetakan ke-2 digeser menjadi pasal 34 pada cetakan ke-6,
namun setelah dilihat ternyata isi pasal 33 cet-2 dengan isi pasal 34 cet ke-6 pun berbeda 99%,
sebagaimana berikut :

Pasal 34
Metode untuk mengangkat Khalifah adalah baiat. Adapun tata cara praktis untuk mengangkat dan membaiat Khalifah adalah sebagai berikut :
a. Mahkamah Mazhalim mengumumkan kosongnya jabatan Khilafah
b. Amir sementara melaksanakan tugasnya dan mengumumkan dibukanya pintu pencalonan seketika itu.
c. Penerimaan pencalonan para calon yang memenuhi syarat-syarat in’iqad dan penolakan pencalonan mereka yang tidak memenuhi syarat-syarat in’iqad ditetapkan oleh Mahkamah Mazhalim.
d. Para calon yang pencalonannya diterima oleh Mahkamah Mazhalim dilakukan pembatasan oleh anggota-anggota Majelis Umah yang muslim dalam dua kali pembatasan. Pertama, dipilih enam orang dari para calon menurut suara terbanyak. Kedua, dipilih dua orang dari enam calon itu dengan suara terbanyak
e. Nama kedua calon terpilih diumumkan. Kaum Muslim diminta untuk memillih satu dari keduanya.
f. Hasil pemilihan diumumkan dan kaum Muslim diberitahu siapa calon yang mendapat suara lebih banyak.
g. Kaum Muslim langsung membaiat calon yang mendapat suara terbanyak sebagai Khalifah bagi kaum Muslim untuk melaksanakan kitabullah dan sunah rasul-Nya.
h. Setelah proses baiat selesai, Khalifah kaum Muslimin diumumkan ke seluruh penjuru sehingga sampai kepada umat seluruhnya. Pengumuman itu disertai penyebutan nama Khalifah dan bahwa ia memenuhi sifat-sifat yang menjadikannya berhak untuk menjabat Khilafah.
i. Setelah proses pengangkatan Khalifah yang baru selesai, masa jabatan amir sementara berakhir.

Dan perubahan signifikan seperti ini pun masih disandarkan pada penulis lama yang sudah lama wafat.
Apakah Taqiyyuddin saat ini masih hidup hingga bisa merubah isi kitabnya ini ?.
Siapa yang bertanggung jawab atas perubahan kitab Taqiyyuddin ini ? Dan seperti apa kitab yang benar benar asli Tulisan Taqiyyuddin ?
Sungguh budaya seperti ini jika dibiarkan dapat merusak orisinalitas kitab-kitab agama Islam.

 

Belum lagi isi dari pasal RUUD yang banyak mengalami gubahan namun tetap saja disandarkan pada penulis lama yang telah lama wafat.

Seandainya Taqiyyuddin masih hidup hingga kini apakah rela ia melihat kitab karangannya diubah-ubah kemudian dinisbahkan pada dirinya ?

Apakah perubahan besar-besaran pada isi RUUD kemudian dinisbahkan ke taqiyyuddin tersebut sesuai dengan maksud dan pemikiran taqiyyuddin sebelumnya ?

Bagimana mungkin penulis yang telah wafat bisa mengubah pasal RUUD yang dulunya hanya 187 pasal kini di kitabnya yang dicetak ulang menjadi 190 pasal ?

Kenapa kitab yang telah berubah drastis isinya ini tetap dikatakan sebagai tulisan Taqiyyuddin an Nabhani sebagai satu satunya penulis ?

Hal itu tidak mungkin terjadi kecuali Taqiyyuddin an Nabhani masih hidup hingga kini.

Alloh berfirman yang artinya :

Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka Itulah orang-orang pendusta. (An Nahl 105)

Semoga kebiasaan menggubah kalam ulama ini tidak diteruskan oleh Hizbut Tahrir sebab akan menyebabkan rusaknya banyak warisan ilmu ulama yang mereka berjuang tak kenal lelah memurnikan ajaran agama demi kejayaan Islam.

Dan kebiasaan ini apabila diteruskan bukan tidak mungkin akan menyebabkan kerusakan agama yang lebih besar apalagi jika bukan hanya kitab kitab ulama Hizbut Tahrir namun juga kitab kitab ulama besar Islam yang wajib kita jaga orisinalitasnya pada akhirnya terkena gubahan yang disesuaikan dengan agenda dan kepentingan kelompok.

Semoga Hizbut Tahrir bisa menghentikan kebiasaan yang sangat merusak ini, dan semoga agama ini terjaga kemurniannya selamanya.

About barifbrave

Bismillah, Rising Star Moslem Legend, Amin

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Tulisan

Arsip per Bulan

Masukkan alamat e-mail Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui e-mail.

Join 1,985 other followers

%d bloggers like this: