As Sunah, Fiqih, Muhammad

Hasyim Asy’ari Rahimahullah Ingkari Adanya Maulid Nabi, Tahukah Anda?


KEMUNGKARAN ACARA MAULID YANG DIINGKARI OLEH PENDIRI NU KIYAI MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI RAHIMAHULLAH

Tidak diragukan lagi bahwa melaksanakan perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perkara yang tidak dikenal oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali bin Abi Tholib tidak pernah merayakannya, bahkan tidak seorang sahabatpun.

Padahal kecintaan mereka kepada Nabi sangatlah besar…mereka rela mengorbankan harta bahkan nyawa mereka demi menunjukkan cinta mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikian pula tidak diragukan lagi bahwasanya para imam 4 madzhab (Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Malik, Al-Imam As-Syafi’i, dan Al-Imam Ahmad) juga sama sekali tidak diriwayatkan bahwa mereka pernah sekalipun melakukan perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karenanya sungguh aneh jika kemudian di zaman sekarang ini ada yang berani menyatakan bahwa maulid Nabi adalah sunnah, bahkan sunnah mu’akkadah??!! (Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang tokoh sufi Habib Ali Al-Jufri, ia berkata, “Maulid adalah sunnah mu’akkadah, kita tidak mengatakan mubah (boleh) bahkan sunnah mu’akkadah, silahkan lihat di

Tentu hal ini menunjukkan kejahilan Habib Al-Jufri, karena sunnah mu’akkadah menurut ahli fikih adalah : sunnah yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditekankan oleh Nabi serta dikerjakan oleh Nabi secara kontinyu, seperti sholat witir dan sholat sunnah dua raka’at sebelum sholat subuh. Jangankan merayakan maulid berulang-ulang, sekali saja tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pernyataan bahwa perayaan maulid Nabi adalah sunnah mu’akkadah melazimkan kelaziman-kelaziman yang buruk, diantaranya :

Pertama : Perayaan maulid Nabi termasuk dari bagian agama yang dengan bagian tersebut maka Allah menyempurnakan agamaNya. Jika ternyata perayaan maulid Nabi baru muncul ratusan tahun setelah wafatnya Nabi, menunjukkan bahwa kesempurnaan agama baru sempurna ratusan tahun setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kedua : Berarti Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan para sahabatnya, bahkan para tabi’in dan juga para imam 4 madzhab semuanya telah meninggalkan sunnah mu’akkadah yang sangat penting ini !!!, padahal mereka begitu terkenal sangat bersemangat dalam beribadah !!?

Ketiga : Hal ini juga melazimkan bahwa orang-orang yang merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukan amalan sunnah mu’akkadah dan juga telah meraih pahala yang terluputkan oleh Nabi, para sahabat, dan para imam madzhab.

(silahkan baca kembali “DIALOG ASWAJA – SYIAH vs WAHABI tentang BID’AH HASANAH“)

Diantara perkara yang menunjukkan bid’ahnya perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ternyata banyak kemungkaran-kemungkaran yang terjadi dalam perayaan maulid.

Karenanya tatkala ada sebagian ulama yang membolehkan perayaan maulid maka mereka menyebutkan cara perayaan yang benar, dan mereka mengingkari tata cara perayaan yang berisi banyak kemungkaran.

Diantara para ulama yang mengingkari kemungkaran-kemungkaran yang terjadi di perayaan maulid adalah Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari rahimahullah pendiri N.U. Bahkan beliau rahimahullah telah menulis sebuah risalah yang berjudul

التَّنْبِيْهَاتُ الْوَاجِبَاتُ لِمَنْ يَصْنَعُ الْمَوْلِدَ بِالْمُنْكَرَاتِ

(Peringatan-peringatan yang wajib terhadap orang-orang yang merayakan maulid Nabi dengan kemungkaran)

Meskipun Kiyai Muhammad Hasyim al-Asy’ari membolehkan merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi beliau meletakkan aturan-aturan dalam perayan maulid tersebut.

Beliau sungguh terkejut tatkala melihat orang-orang yang merayakan maulid Nabi telah melakukan kemungkaran-kemungkaran dalam perayaan tersebut, sehingga mendorong beliau untuk menulis risalah ini sebagai bentuk bernahi mungkar.

Beliau berkata di awal risalah beliau ini :

“Pada senin malam tanggal 25 Robi’ul awwal 1355 Hijriyah, sungguh aku telah melihat sebagian dari kalangan para penuntut ilmu di sebagian pondok telah melakukan perkumpulan dengan nama “Perayaan Maulid”.

Mereka telah menghadirkan alat-alat musik lalu mereka membaca sedikit dari Al-Qur’an dan riwayat-riwayat yang datang tentang awal sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tentang tanda-tanda kebesaran Allah yang terjadi tatkala maulid (kelahiran) Nabi, demikian juga sejarah beliau yang penuh keberkahan setelah itu.

Setelah itu merekapun mulai melakukan kemungkaran-kemungkaran seperti saling berkelahi dan saling mendorong yang mereka namakan dengan “Pencak silat” atau “Box”, dan memukul-mukul rebana.

Semua itu mereka lakukan dihadapan para wanita ajnabiah (bukan mahram mereka-pen) yang dekat posisinya dengan mereka sambil menonton mereka.

Dan juga musik dan sandiwara cara kuno, dan juga permainan yang mirip dengan judi, serta bercampurnya (ikhtilatnya) para lelaki dan wanita.

Juga nari-nari dan tenggelam dalam permainan dan tertawa, suara yang keras dan teriakan-teriakan di dalam mesjid dan sekitarnya. Maka akupun melarang mereka dan mengingkari perbuatan kemungkaran-kemungkaran tersebut, lalu mereka pun buyar dan pergi”

Setelah itu Kiyai Muhammad Hasyim berkata :

“Dan tatkala perkaranya sebagaimana yang aku sifatkan dan aku takut perbuatan yang menghinakan ini akan tersebar di banyak tempat, sehingga menjerumuskan orang-orang awam kepada kemaksiatan yang bermacam-macam, dan bisa jadi mengantarkan mereka kepada keluar dari agama Islammaka aku menulis peringatan-peringatan ini sebagai bentuk nasehat untuk agama dan memberi pengarahan kepada kaum mulsimin. Aku berharap agar Allah menjadikan amalanku ini murni ikhlas untuk wajahNya yang mulia, sesungguhnya Ia adalah pemilik karunia yang besar” (At-Tanbiihaat Al-Waajibaat  hal 10)

Tata Cara Perayaan Maulid :

Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari rahimahullah menyebutkan tentang tata cara perayaan maulid yang dianjurkan. Beliau berkata ;

“Dari perkataan para ulama… bahwasanya maulid yang dianjurkan oleh para ulama adalah berkumpulnya orang-orang dan membaca sebagian ayat-ayat al-Qur’an dan riwayat khabar-khabar yang menjelaskan tentang permulaan sejarah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan peristiwa-peristiwa yang terjadi tatkala Nabi dalam kandungan dan kelahirannya, demikian juga setelahnya berupa sejarah/siroh beliau yang penuh keberkahan. Setelah itu diletakkan makanan lalu mereka memakannya lalu buyar. Jika mereka menambahkan dengan memukul rebana sambil memperhatikan kesopanan dan adab maka tidak mengapa” (At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 10-11)

Kemungkaran-Kemungkaran dalam Perayaan Maulid yang disebutkan oleh Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari

Diantara kemungkaran-kemungkaran tersebut adalah :

Pertama : Bercampurnya (ikhtilath) antara laki-laki dan perempuan

Kedua : Diadakannya “strik” (semacam sandiwara cara kuno, wallahu a’lam, meskipun hingga saat ini penulis masih belum paham betul akan makna strik, jika ada diantara pembaca yang faham tolong memberi infonya kepada penulis)

Ketiga : Alat-alat musik, seperti seruling dan yang lainnya. Hanyalah  yang dibolehkan adalah rebana

Keempat : Mubadzir dalam mengeluarkan harta untuk perkara yang berlebih-lebihan dan tidak bermanfaat. (Lihat At-Tanbiihaat Al-Waajibaat 38-39)

Kelima : Joget atau tarian-tarian

Keenam : Nyanyian

Ketujuh :  Keasikan bermain sehingga lupa dengan hari kebangkitan. (Lihat At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 21)

Kedelapan : Jika tidak terjadi ikhtilat dan para wanita berkumpul sendirian maka ada kemungkaran-kemungkaran juga yang mereka lakukan seperti : Mengangkat suara keras-keras dalam mengucapkan selamat dan juga bergoyang-goyang dalam bernasyid, serta membaca al-Qur’an dan dzikir dengan cara membaca yang keluar dari syariat dan cara yang wajar. (At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 22)

Demikianlah beberapa kemungkaran yang disebutkan oleh Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitabnya tersebut.

Setelah itu beliau mengingatkan akan beberapa perkara:

Pertama : Merayakan maulid dengan cara melakukan kemungkaran-kemungkaran di atas merupakan bentuk tidak beradab kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan merupakan bentuk perendahan dan menyakiti beliau. Orang-orang yang merayakan melakukan hal ini telah terjerumus dalam dosa yang besar yang dekat dengan kekufuran dan dikhawatirkan mereka terken suul khootimah (kematian yang buruk).

Kalau mereka melakukan kemungkaran tersebut dengan niat merendahkan Nabi dan menghinanya maka tidak diragukan lagi akan kekufurannya. (Lihat At-Tanbiihaat al-Waajibaat hal 44-45)

Kedua :  Karenanya tidak boleh merayakan maulid yang mengantarkan kepada kemaksiatan. Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari berkata :

فَاعْلَمْ أَنَّ عَمَلَ الْمَوْلِدِ إِذَا أَدَّى إِلَى مَعْصِيَةٍ رَاجِحَةٍ مِثْلِ الْمُنْكَرَاتِ وَجَبَ تَرْكُهُ وَحَرُمَ فِعْلُهُ

“Ketahuilah bahwasanya perayaan maulid jika mengantarkan kepada kemaksiatan yang jelas/kuat seperti kemungkaran-kemungkaran maka wajib untuk ditinggalkan dan haram perayaan tersebut” (At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 19)

Ketiga : Bahkan tidak boleh membantu terselenggarakannya perayaan maulid yang modelnya seperti ini.

Kiyai Muhammad Hasyi Asy’ari berkata :

وَإِنَّمَا كَانَ إِعْطَاءُ الْمَالِ لِأَجْلِهِ حَرَامًا لِأَنَّهُ إِعَانَةٌ عَلَى مَعْصِيَةٍ، وَمَنْ أَعَانَ عَلَى مَعْصِيَةٍ كَانَ شَرِيْكاً فِيْهَا، وَكَذَلِكَ يَحْرُمُ التّفَرَجُّ ُعَلَيْهِ وَالْحُضُوْرُ فِيْهِ لِأَنَّ الْقَاعِدَةَ : أَنَّ كُلَّ مَا كَانَ حَرَامًا يَحْرُمُ التَّفَرُّجُ عَلَيْهِ وَالْحُضُوْرُ فِيْهِ

“Mengeluarkan uang untuk perayaan maulid (yang bercampur kemungkaran-kemungkaran) menjadi haram dikarenakan hal ini merupakan bentuk membantu pelaksanaan maksiat. Dan barang siapa yang membantu terselenggaranya kemaksiatan maka ia ikut serta di dalamnya. Demikian juga haram untuk menyaksikan dan hadir dalam acara tersebut, karena kaidah menyatakan : “Setiap yang haram maka haram pula menyaksikan dan hadir di dalamnya” (At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 39)

Keempat :  Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari juga menyatakan bahwa seseorang yang melakukan perayaan maulid dengan melakukan kemungkaran-kemungkaran maka ia sedang bermuhaajaroh (menampakan terang-terangan) dengan kemaksiatan. (lihat At-Tanbiihaat hal 39-40)

Kelima : Beliau juga menyatakan bahwa orang yang melakukan maulid model demikian telah memiliki sifat orang munafiq. Beliau berkata ;

وَمِنْهَا أَنَّهُ اتِّصَافٌ بِصِفَةِ النِّفَاقِ وَهِيَ إِظْهَارُ خِلاَفِ مَا فِي الْبَاطِنِ إِذْ ظَاهِرُ حَالِهِ أَنَّهُ يَعْمَلُ الْمَوْلِدَ مَحَبَّةً وَتَكْرِيْمًا لِلرَّسُوْلِ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ وَباَطِنُهُ أَنَّهُ يَجْمَعُ بِهِ الْمَلَاهِي وَيَرْتَكِبُ الْمَعَاصِي

“Diantara kerusakan-kerusakan maulid model ini adalah pelakunya bersifat dengan sifat kemunafikan, yaitu memperlihatkan apa yang berbeda dengan di dalam hati. Karena lahiriahnya ia melaksanakan maulid karena mencintai dan memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi batinnya ia mengumpulkan perkara-perkara yang melalaikan dan melakukan kemaksiatan-kemaksiatan” (At-Tanbiihaat hal 40)

Keenam : Wajib bagi seorang alim untuk mengingkari para penuntut ilmu yang melakukan kemungkaran-kemungkaran tersebut. Karena jika didiamkan maka orang awam akan menyangka bahwa cara merayakan maulid dengan kemungkaran-kemungkaran tersebut adalah merupakan bagian dari syari’at. Padahal perkaranya adalah sebaliknya, justru mengantarkan pada penyia-nyiaan syari’at dan meninggalkannya. (lihat At-Tanbiihaat al-Waajibaat hal 40-41).

Penutup :

Para pembaca yang budiman, meskipun penulis memandang akan bid’ahnya maulid akan tetapi taruhlah jika penulis mengalah dan menyatakan bahwa perayaan maulid dianjurkan (sebagaimana pendapat kiyai pendiri NU) maka marilah kita melihat kenyataan yang ada…

sungguh terlalu banyak perayaan maulid di negeri kita yang bercampur di dalamnya kemungkaran-kemungkaran yang telah diperingatkan oleh Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari, seperti musik-musikan, nyanyian, ikhtilat lelaki dan wanita, mubadzir dalam makanan dan hias-hiasan.

Lagu kasidahan yang disenandungkan oleh suaru biduan wanita disertai musik diputar bahkan di dalam mesjid??!!.

Jika Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari mengingkari wanita mengangkat suaranya dalam rangka untuk mengucapkan selamat…

bahkan dalam hal membaca al-Quran dengan cara yang tidak wajar, maka bagaimana lagi jika suara merdu biduan wanita lagi nyanyi kasidahan??!!

Belum lagi kemungkaran-kemungkaran yang lebih besar yang tidak disebutkan oleh Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari seperti

–         Banyak pelaku maksiat (baik yang tidak pernah sholat, koruptor, bahkan pemabuk dan pezina, para artis tukang umbar aurat) begitu antusias untuk ikut andil dalam melaksanakan perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mereka menyangka bahwa perayaan inilah sarana yang benar untuk menyalurkan dan mengungkapkan kecintaaan mereka terhadap Nabi.

Akan tetapi jika mereka diajak untuk melaksanakan sunnah Nabi yang sesungguhnya maka mereka akan lari sejauh-jauhnya. Ini merupakan salah satu dampak negatif dari perayaan maulid Nabi, karena sebagian orang menjadi tidak semangat bahkan menjauh dari sunnah yang sesungguhnya karena bersandar kepada perayaan-perayaan seperti ini yang dianggap sunnah.

–         Sebagian mereka meyakini bahwa ruh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut hadir dalam acara maulid mereka

–         Sebagian mereka mensenandungkan bait-bait sya’ir puji-pujian terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah sebagian dari sya’ir-sya’ir tersebut ada yang mengandung makna berlebih-lebihan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana qosidah Burdah karya Al-Bushiri. Diantaranya perkataan Al-Bushiri:

فَإِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدَّنُيْاَ وَضَرَّتَها             وَمِنْ عُلُوْمِكَ عِلْمَ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ
Sesungguhnya diantara kedermawananmu adalah dunia dan akhirat dan diantara ilmumu adalah ilmu lauhil mahfuz dan yang telah dicatat oleh pena (yang mencatat di lauhil mahfuz apa yang akan terjadi hingga hari kiamat)

Hal ini jelas merupakan kesyirikan dan menyamakan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Allah. Karena hanya Allahlah yang mengetahui ilmu lauhil mahfuz, pengucap syair ini telah mengangkat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga pada derajat ketuhanan dan ini merupakan kekufuran yang nyata (lihat kembali “Berlebih-lebihan Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Hingga Mengangkat Beliau pada Derajat Ketuhanan“)

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 04-05-1434 H / 16 Maret 2013 M
Abu Abdil Muhsin Firanda
http://www.firanda.com

About barifbrave

Bismillah, Rising Star Moslem Legend, Amin

Discussion

13 thoughts on “Hasyim Asy’ari Rahimahullah Ingkari Adanya Maulid Nabi, Tahukah Anda?

  1. Healahhh…. Rujukannya ustaz Firanda tho. Ya pantesan jadi begini sudut pandangnya….

    Posted by mhilal | May 8, 2014, 3:09 pm
    • Lho, memangnya kenapa dengan ustadz firanda? Btw, Rujukan beliau jelas. Bukunya K.H. Hayim Asyhari sendiri. Lha, antum punya bukunya G?

      Posted by barifbrave | May 8, 2014, 3:37 pm
      • Itu judul sama isinya saja ndak nyambung. Judulnya mengatakan, Hadratus Syaikh mengingkari maulid, tapi di tulisan beliau hanya menyayangkan praktek maulid yang keliru. Berarti kan jelas, beliau tidak mengingkari maulid

        Posted by mhilal | May 9, 2014, 9:22 am
      • Nah, sekarang coba antum perhatikan perayaan maulid sekarang, adakah yang tidak menyimpang dari ajaran rasul saat ini?

        Posted by barifbrave | May 9, 2014, 11:02 am
      • Ya buanyak, mas. Pean coba datang saja ke kampung-kampung itu. Mayoritas perayaan maulid baik-baik saja. Yang menyimpang itu bisa dihitung dg jari lah….

        Posted by mhilal | May 9, 2014, 11:08 am
      • Banyak yg menyimpang maksudnya??? Kan jelas, Yg diajarkan oleh Sang Kiyai adalah berpuasa, atau bersedekah, dan juga amalan lainnya yang sesuai syariah. Nah, Kalau banyak yang umum di kampung-kampung begitu pula kampung saya, membaca buku barzanzi yang pembacanya sendiri tidak tahu artinya.

        Ditambah, ada bagian dalam pembacaan kitab itu yang harus berdiri (meyakini bahwa nabi Muhammad SAW turut hadir dalam perayaan tersebut). Apakah Sang Kyai mengajarkan ini?

        Kalau iya, seharusnya Sang Kyai sendiri lah yang menulis sejarah Rasul atau minimal dalam kitab Sang Kyai jelas menyebutkan (misal textnya seperti ini : “Bacalah oleh kalian buku barzanzi karangan fulan karena buku ini begini dan begitu)

        Posted by barifbrave | May 9, 2014, 11:31 am
      • Orang-orang yang baca barzanjen itu memangnya tidak bersedekah, mas. Habis barzanjenan, para pengunjung kan makan bareng. Makanan itu disediakan tuan rumah. Itu apa bukan sedekah?

        Perihal bacaan barzanji. Saya tidak melihat ada yang salah teks itu. Pujian sama Nabi masak salah? Kalau pean anggap salah, telitilah sejarah. Sahabat juga memuji2 Nabi mas.

        Soal mahallul qiyam saat baca barzanji, apanya juga yang salah dari kegiatan itu. Itu adalah penghormatan saat membaca teks. Apa salahnya? Saat menyanyikan Indonesia Raya saja para hadirin disuruh berdiri. Itu biasa kan?

        Lalul, “Apakah Sang Kyai mengajarkan ini?” Pertanyaan ini tak menunjukkan apa-apa selain bahwa pean belum pernah ke Pesantren Tebu Ireng, Jombang. Di sana tidak pernah ada larangan membaca Barzanji berikut praktek-praktek maulidan. Malahan di sana pembacaan barzanji sangat dihargai, dan diajarkan pula pada santri-santri. Tidak mungkin kan pesantren itu mengajarkan sesuatu yang dilarang oleh pendirinya, Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari.

        Apa yang tidak diperintahkan oleh Hadratusy Syaikh tidak berarti dilarang olehnya. Apa yang tidak tercantum dalam sama sekali dalam kitabnya, tidak berarti dilarang olehnya. Telitilah dulu sebelum menyimpulkan yang bukan-bukan. Cara menelitinya itu salah satunya adalah belajar di pesantren beliau, bukan dari internet mas.

        Posted by mhilal | May 9, 2014, 1:22 pm
      • 1. Sekarang begini, Kalau memang kitab barzanzi itu isinya bagus, ana minta terjemahan bahasa Indonesia-nya, tranlatannya harus yang paham bahasa arab y.

        2. Saya tidak mengatakan yang baca kitab barzanji itu TIDAK SEDEKAH Y!!!

        3. Yang saya permasalahkan bukan berdirinya (srakalnya), tetapi kepercayaan bahwa saat srakal, Rasulullah SAW datang. Sekarang ana mau tanya, Rasulullah SAW ada berapa? 1 tho? Nah, Kalau ada 10 masjid yang sedang srakal secara bersamaan, apakah rasulullah terbagi menjadi 100 terus datang ke setiap masjid? Kalau iya, apakah ada dalil al quran atau hadist kalau rasulullah bisa membelah diri menjadi 100?

        4. Kalau memang Anda pernah ke Tebu Ireng pernahkah Anda baca buku yg ada di artikel ini? Dan saya beri tahu, buku ini tidak hanya ada di Tebu Ireng Mas. Hampir di seluruh pesantren NU ada.

        5. Saya hanya menghimbau mas, syariat Islam itu sudah sempurna (Al Maidah ayat 3), janganlah kita tambah2i dengan praktek2 yang tidak diajarkan Rasullullah SAW.

        Posted by barifbrave | May 9, 2014, 1:59 pm
  2. 5. Islam itu sempurna. Sip, kita sepakat soal ini. Tapi menambah-nambah praktek yg tidak diajarkan oleh Rasulullah saw.? Umat muslim manapun ndak ada yang sudi melakukannya, termasuk umat muslim di kampung pean.

    4. Begini lho, begini. Sampean ini ndak fokus ke persoalan sebenarnya. Saya bilang, praktek maulid dg membaca barzanji itu diajarkan di Tebu Ireng. Saya tidak mengingkari buku hasil karya Hadratusy Syaikh itu, saya malah tahu bahwa buku itu ada di pesantren-pesantren. Nah, oleh karena praktek maulid diajarkan di Tebu Ireng, kok bisa-bisanya sampean percaya dawuhnya ustaz Firanda bahwa Hadratusy Syaikh mengingkari maulid dan Barzanji? Itu kan ndak nyambung alur nalarnya. Setahu saya, Barzanji dan perayaan maulid itu dilarang sejak para pengikut Muhammad ibn Abdul Wahhab mulai berdatangan ke Indonesia. Sebelumnya biasa-biasa saja, kok.

    3. Naaah, berarti ketemu sudah jawabannya. Sampean sendiri sudah bilang itu. Persoalannya kan di kepercayaan, kalau praktek itu tidak disertai kepercayaan bahwa Nabi datang di situ, berarti ndak masalah toh? Itu dia jawabannya.

    2. Sip! Kita satu persepsi soal satu ini.

    1. Boleh, boleh. Sampean maunya terjemahannya itu saya kirim via email apa saya post di kotak komentar ini? Sembari menunggu, coba sampean tunjukkan apa jeleknya kitab Barzanji itu.

    Posted by mhilal | May 9, 2014, 2:40 pm
    • 5. Ok, Kalau sepakat, seharusnya kita juga sepakat dengan maulid nabi adalah bid’ah. Perihal menambah2i amalan2 di luar syariah, memang di kampung saya juga ada, tetapi ini adalah proses dakwah, proses untuk kita menuju kepada jalan sunnah. Artikel ini memang dibuat agar kita semua belajar, mana jalan bid’ah, mana jalan sunnah.

      3. Ok, sekarang, kalau tidak dipercaya bahwa nabi datang, nah mengapa mereka melakukan hal ini, adakah dalilnya? Bukankah setiap ibadah harus ada dalil yang menghalalkannya?

      4. Saya fokus, coba anda baca kembali artikel saya, maulid yang diajarkan pak yai dalam buku beliau itu seperti apa? Apakah Anda bisa menceritakan kepada saya kapan dan bagaimana pengikut Muhammad bin Abdul Wahab datang ke Indonesia?

      1. Nah, sambil Anda mencari, silakan baca artikel saya yang lain
      https://barifbrave.wordpress.com/2014/05/09/perayaan-maulid-nabi-adalah-produk-syiah/
      https://barifbrave.wordpress.com/2014/05/09/perayaan-maulid-mau-merayakan-kelahiran-atau-kematian/
      https://barifbrave.wordpress.com/2014/04/06/mana-dalil-yang-menyatakan-perayaan-maulid-haram/
      https://barifbrave.wordpress.com/2014/04/06/mengapa-maulid-nabi-dikategorikan-sebagai-bidah/
      https://barifbrave.wordpress.com/2014/05/09/barzanji-kitab-penuh-kesyirikan-yang-dilantunkan-dengan-penuh-taqlid-buta/
      https://barifbrave.wordpress.com/2014/04/23/dua-jawaban-menolak-bidah-hasanah/
      semoga bisa nambah referensi

      Posted by barifbrave | May 9, 2014, 3:53 pm
      • 5. Nah, pada akhirnya sesuai dengan prediksi saya. Adu argumen dlm permasalah ini kembali ke soal bid’ah atau bukan, kan. Dan di sinilah adu argumen itu berputar-putar tanpa ujung. (1) Yang satu bersikukuh bahwa praktek maulid itu bid’ah, sehingga sesuai dengan hadis “kullu bid’atin dlolalah”. (2) Yang satu lagi bersikukuh bahwa praktek itu tradisi, sehingga sesuai dengan hadis “man sanna sunnatan hasanah”. Kelompok (1) menganggap bahwa hadis “man sanna sunnatan hasanah” hanya berlaku pada soal non-ubudiyah, dan kelompok (2) beranggapan bahwa hadis “kullu bid’atin dlolalah” itu hanya berlaku pada bid’ah dlolalah. Begitu seterusnya.🙂

        3. Ini lagi. Di atas sampean tidak mempermasalahkan srakalan, sekarang sampean berbalik mempermasalahkannya. Mbok tunjukkan sedikit konsistensi lah, biar sama-sama enak. Pertimbangkan dulu, itu ibadah atau bukan. Kalau ternyata ibadah, baru minta dalil. Jangan-jangan malah bukan bukan ibadah mahdlah. Saya ulangi, pertimbangan dulu….

        4. Baiklah, saya ceritakan. Kitab itu berjudul ِِِAt-Tanbihaat al-Waajibaat li Man Yashna’ al-Mawlid bi al-Munkaaraat. Di dalamnya berisi sepuluh peringatan (tanbiihaat) kepada para pelaku perayaan maulid dengan cara mungkar. Tapi, perlu diingat, dengan menulis kitab ini, penulisnya tidak serta-merta melarang merayakan maulid Nabi–seperti yang dituduhkan sebagian penulis ngehek, sebab yang beliau peringatkan hanyalah para pelaku perayaan maulid melalui cara-cara yang mungkar. Intinya itu saja, sebetulnya.

        Oh, sampean meminta diceritakan datangnya para wahhabiyun ke Indonesia ya. Boleh, tapi saya harus pastikan dulu, sampean pengikutnya atau bukan. Sebab kalau bukan, cerita saya akan sia-sia, karena berarti kita satu perspektif nantinya. Jadi saya tanya dulu, sampean pengikutnya Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab, kan?

        1. Wuiihhh… Mantap ini. Trims ya sudah kasih banyak refrensi buat saya, walaupun isinya cuma kopas sana-sini. Mantap, deh….

        Posted by mhilal | May 9, 2014, 9:15 pm
      • Jazakallah y akhi, antum sudah berkenan untuk berdiskusi disini. Ana dalam setiap diskusi berharap akan menemukan kebenaran di dalamnya bukan menang-kalah atau bahkan berujung pada “takfir2an” na’udzubillah. Semoga dari diskusi ini dapat kita ambil hikmad dan ibrah dibaliknya.

        5. Terkait pernyataan antum ttg “man sanna sunnatan hasanah”. Nah, sekarang saya mau tanya apakah tradisi maulid ada sejak di jaman rasul / sahabat? Kalau memang ada tolong sampaikan dalilnya. Kalau tidak ada, awal mula maulid kapan? Dan apakah dari awal perayaan maulid memang dimulai dengan bacaan kitab barzanji?

        3. Lho srakalan itu kan ada dalam acara perayaan maulid, bukankah dari awal kita memang berdiskusi tentang maulid? Nah, dikomen antum yang sebelumnya kan antum bilang, “Kalau yg berdiri srakal tidak menganggap nabi datang, berarti tidak mengapa berdiri”. Ya akhi, setiap ibadah yg kita lakukan harus ada dalilnya jangan ikut2an, jangan taklid buta.

        4. Untuk kitab karangan pak yai apakah ada perintah untuk baca kitab barjanzi? Kalau iya, tolong tunjukkan, kalau tidak, lantas yg memulai perayaan maulid dg baca kitab barjanzi di Indonesia siapa?

        Monggo antum ceritakan ke ana. Ana suka sejarah. Ana bukan pengikut siapa2. ana hanya mengikuti al quran dan as sunnah yang haq. Sekalipun Anda yg menyampaikan, kalau memang itu haq, ana ikuti.

        1. Afwan ya akhi, imu ana memang masih sedikit, jadi ana copas. Bukankah copas dibolehkan selama menyertakan sumbernya? Toh kita sebagai umat islam juga diharuskan copas (dan mendasarkan pemikiran) dari al quran dan al hadist. Ya, kalau antum memang berkenan membaca ana terima kasih.

        Sekali lagi, semoga diskusi ini membawa manfaat kepada kita semua. Amiiin…

        Posted by barifbrave | May 10, 2014, 11:06 am
  3. 1. Saya sangat senang sekali dapat anjuran membaca kopas-kopas begitu. Dan dengan begitu, secara otomatis, kita sama-sama taklid. Sampean taklid sama ulama-ulama sampean yang menulis di majalah dan blog-blog itu, sedang saya taklid kepada ulama-ulama saya. Kita impas, sama-sama punya ulama yang pinter ngutip2 ayat dan hadis. Ya gak?😀

    3. Bukan begitu kesimpulannya, mas. Srakalan itu pas baca barzanji atau burdah. Perayaan maulid belum tentu ada srakalannya, bentuknya banyak. Sampeyan hataman Quran di hari kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad itu sudah sebentuk perayaan kok. Lagian juga di atas sampean bilang ndak mempersoalkan srakalan, lah sekarang masih ngotot mau mempersoalkannya. Keren juga sampean ini.

    4. Tidak disebutkan sama sekali, memang, baik “menganjurkan” maupun “melarang“.

    Oh, atau mungkin pengikut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani? Atau Hasan Al-Banna dan Sayyid Quthb? Ayolaaah, sebut saja. Tidak apa-apa kok.

    5. Tradisi ini belum ada di jaman Nabi, memang. Tapi coba perhatikan kaul Imam Ibn Hajar ini:

    أَصْلُ عَمَلِ الْمَوْلِدِ بِدْعَةٌ لَمْ تُنْقَلْ عَنْ أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ مِنَ الْقُرُوْنِ الثَّلاَثَةِ وَلَكِنَّهَا مَعَ ذَلِكَ قَدِ اشْتَمَلَتْ عَلَى مَحَاسِنَ وَضِدِّهَا فَمَنْ تَحَرَّى فِي عَمَلِهَا الْمَحَاسِنَ وَتَجَنَّبَ ضِدَّهَا كَانَ بِدْعَةً حَسَنَةً، وَإِلاَّ فَلاَ
    – حسن المقصد في عمل المولد ص 17

    Apakah nanti sampean akan bertanya apa itu bid’ah? Lalu kita akan berputar-putar soal bidah.

    Posted by mhilal | May 10, 2014, 7:36 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Tulisan

Arsip per Bulan

Masukkan alamat e-mail Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui e-mail.

Join 1,985 other followers

%d bloggers like this: