Sastra

LALAT YANG SETIA


Sasya kecil dan bundanya melewati jalan kecil itu. Ada yang rasanya berbeda hari ini ketika akan dilewati. Dari jarak 100 meter sudah mulai tercium bau busuk. Semakin mereka mendekat semakin menyekat hidung.

 

“Sasya tutup hidungmu dengan sapu tangan ini ..”

“Bau apa ini, ..Ma ?”

“Hati-hati dengan jalanmu sayang, liat di ujung jalan itu ..”

 

Mama menunjuk onggokan kotoran binatang, yang sepertinya baru, dan belum ada yang membersihkan. Tampak banyak lalat mengerubunginya. Hanya lalat saja. Entah apa yang dicari lalat-lalat itu. Orang-orang lain yang lewat pun bukan saja menutup hidung, bahkan segera memalingkan muka, jijik melihatnya. Beberapa menggerutu, berusaha berlalu secepat mungkin. Jalan itu kali ini benar-benar menjadi sangat tidak nyaman untuk dilewati.

Setelah melewati onggokan yang menjijikkan itu, Mama dan Sasya kecil sudah mulai dapat bernafas lega. Memasuki halaman rumahnya yang penuh bunga, keduanya tampak sangat menikmati keharuman yang semerbak menyusup. Sejenak menghapus sepenggal kenang tentang detik-detik menjijikkan yang sudah berlalu.

 

“Aduh untung cepat sampai rumah ya, Ma..”

Si putri kecil senang sekali memetik beberapa tangkai bunga dan menciumi keharumannya.

 

“Beberapa tangkai itu nanti masukkan ke vas bunga ini ya..”

“Supaya ruang kamar kita menjadi harum juga ya..Ma”

 

Sebentar kemudian serangkaian bunga lama yang sudah layu sudah tergantikan dengan yang baru. Ruangan kamar menjadi segar mewangi kembali dibuatnya.

 

“Ma .. kira-kira kapan bau busuk di ujung gang tadi hilang ya ? ”

“Kenapa memangnya ?”

“Kalau aku berangkat sekolah, kan selalu lewat situ”

“Ya kita hanya berharap, tukang sapu jalan segera membuangnya. Kalau tidak yang tunggu sampai kotoran binatang itu mengering..nanti baunya hilang sendiri..”

“Lalat-lalat itu mengerubungi sampai kotoran itu mengering ya Ma ?”

 

Oww oww si putri kecil pintar sekali. Dia menaruh perhatian pada perilaku lalat-lalat yang tampak sering hanya sebagai makhluk pengganggu selama ini.

 

“Hati-hati dengan lalat-lalat itu, sayang. Lalat-lalat itu pembawa kuman-kuman penyakit. Jangan jajan sembarangan di dekat situ ya ..” Mama dengan sabar mengingatkan

“Tapi lalat-lalat itu baik juga lho, mereka itu bukankah temansetia bagi kotoran binatang itu ?”

 

Mama tercenung sesaat. Putri kecil kesayangannya itu, tak disangka menyuarakan kepedulian yang tak biasa dirasakan orang lain.

 

Dalam hati Mama membenarkan. Bahkan sering Mama menitipkan pesan pada petugas kebersihan untuk minta onggokan kotoran kering sebagai pupuk kompos bagi tanaman bunganya. Bunga-bunganya tumbuh subur dari pupuk alami semacam itu. Ya sering kali terima beres, hasil jadi yang sudah siap pakai, lupa akan proses terjadinya pupuk kompos itu.

 

” Tidak seperti lebah atau kupu-kupu yang hanya mau hinggap pada bunga-bunga yang mekar. Tentu saja mereka mau dekat kita saja suka. Kalau bunga sudah indah dipandang, harum baunya, pasti semuanya mau dekat-dekat. Tapi sayangnya karena lebah dan kupu-kupu itulah sebentar kemudian pasti bunga-bunga itu akan layu … dan pagi-pagi kita harus membersihkan guguran bunganya yang sudah mengering…”

 

Sasya terus berceloteh. Tanpa sengaja memapar kesadaran baru. Bahwa lalat-lalat yang sering dituduh sebagai biang segala kesusahan, ternyata punya sifat mulia yang perlu diteladani. Lalat-lalat yang sering dipandang jijik mengajarkan kesetiaan dan kecintaan pada sesuatu yang sudah terbuang. Adalah wajar kesenangan akan keindahan dan kemewahan. Tapi ketika sewajarnya kondisi berubah menjadi terburuk melalui perputaran nasib, siapa teman mereka yang terbuang ? siapa teman setia saat-saat kejatuhan ? saat semua pergi karena tak didapati lagi keindahan, keuntungan, kemegahan, siapa teman yang mau mendekat ? hanya kumpulan lalat.

 

Pada kumpulan lalatlah bau busuk keluh kesah rela dihirup, tak segan bercengkerama dengan rupa jijik yang sudah terbuang, hingga masa mengeringkan segala kesakitan menjadi kompos kehidupan. Kompos kehidupan yang menjadi tumpukan pelajaran hidup, sebagai sari pati yang akan bersatu dengan bumi Bunda Pertiwi. Dari tanah yang tersuburkan kompos kehidupan itu tumbuhlah bunga-bunga yang semerbak mengharumkan dunia.

 

“Ma .. Mama seperti lalat-lalat itu ” Sasya mengedip penuh arti

“Maksudmu ? ” dengan pandang penuh selidik.

“Jika aku sakit hanya mama yang paling setia mengurus aku, dari memandikan sampai membersihkan bekas muntahanku, menunggui aku sampai aku sembuh …”

 

Mama tak tahan lagi mendengar celoteh tulus putri kesayangannya. Matanya berkaca-kaca haru. Ia peluk penuh kasih Sasya kesayangannya.

 

“Tentu sayangku, tentu …. demi kamu Mama rela selalu menjadi lalat buatmu ..”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber :
http://www.taruna-nusantara-mgl.sch.id

About barifbrave

Bismillah, Rising Star Moslem Legend, Amin

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Tulisan

Arsip per Bulan

Masukkan alamat e-mail Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui e-mail.

Join 1,985 other followers

%d bloggers like this: