Sastra

KAN KU KIBARKAN BENDERA MERAH – PUTIH


Besok tanggal 17 Agustus, si Budi kecil siang itu menyelesaikan latihan upacaranya. Sudah seminggu sejak hari penunjukannya ia rajin berlatih sebagai petugas pengibar Sang Merah Putih. Budi kecil sangat bangga dengan tugasnya. Langkah kecilnya selalu paling tegap, beberapa hari sebelumnya ia memang belum dapat menyusuaikan panjang lagu dengan kecepatan mengerek bendera. Namun tidak masalah, 3 hari terakhir ini dia selalu mendapat tepuk tangan temen-temannya karena berhasil mengibarkan Sang Merah Putih tepat ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya berakhir dinyanyikan.

Siang itu ia tampak mengayuh sepeda pulang ke rumah. Budi kecil sudah membayangkan betapa gagahnya dia besok dengan baju putih-putih, saputangan leher merah, apalagi mamanya kemarin sudah membelikannya sepatu hitam baru. Walau masih ada satu hal yang agak meresahkannya.

” Mamaa… Mamaa dimana !!? ” setibanya dirumah.

” Ya Mama di belakang rumah, sayang … ” terdengar suara lembut

” Besok aku jadi petugas pengibar bendera di sekolah, tapi .. Pak Guru memberiku tugas ini “
Budi kecil mengeluarkan seukuran besar bendera merah putih. Bendera itu tampak lusuh, mungkin karena terlalu sering dipakai latihan.

” Pak Guru berpesan supaya aku sendiri yang mencuci bendera ini ” begitu keluhnya.

Mama tahu anak sekecil Budi belum biasa mencuci sendiri.
” Kalau begitu, segera ganti bajumu, mumpung hari masih panas segera lakukan tugasmu. Sudah tahu kan, letak ember dan sabun untuk mencucinya ..”

” Tapi Ma, aku kan dilatih untuk menjadi petugas bendera .. bukan tukang cuci bendera ! ” Budi kecil masi protes.

Mama sepertinya agak kecewa. “Hussh…ayo anak mama, ga boleh sombong, nanti Mama jelaskan “

Mama membantu Budi membereskan baju kotornya. Setelah berganti baju bebas. Mama membimbing Budi kecil menimba air ke dalam ember cucian. Mengajarinya menakar bubukan deterjen sabun cuci. Dan yang terpenting memisahkan kain bendera itu dari pakaian-pakaian yang punya warna luntur.

” Nanti Mama bantu menjemurnya di tiang jemuran ” sambil mengajari Budi kecil cara mengucek kain bendera itu, sampai kotorannya nodanya sebentar menghilang.

” Kenapa aku jadi susah begini sih ? ” masih saja keluhnya terdengar.

Mama tahu hanya sekedar putra kebanggaannya belum mengerti. Betapa berharganya secarik kain merah putih itu. Bahwa terlihat dengan langkah tegap, terhormat menjalankan tugas sebagai pengibar bendera, tidaklah berarti apa-apa tanpa mengerti makna perjuangan di dalamnya.

” Budi .. masih ingat bulan lalu kita mengunjungi makam siapa ? “
” Ya tentu makam kakek, Ma “
” Tahukah kah kamu kenapa kakek meninggal ? “
” Kata nenek sie, karena bertempur dengan Belanda, kan “

Mama mengangguk pelan. Matanya sedikit berkaca-kaca. Mama memang belum sempat mengenal kasih kakek sebagai ayahnya. Sewaktu kecil ia sering iri pada teman-teman yang mempunyai orang tua lengkap. Tidak memiliki ayah pelindung, dan melihat sendiri Ibu yang membanting tulang dengan tugas ganda menghidupi keluarga. Namun, semua orang tahu mereka keluarga terhormat.

Kakek Budi adalah komandan regu gerilyawan penghancur pos pertahanan Belanda kala itu. Saat penyerangan yang heroik itu. Banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Regu perintis kakek Budi memiliki posisi penting, karena tanpa mereka berhasil menjebol pos pertahanan Belanda tersebut, gerak maju pasukan RI di belakang akan terhambat dan rakyat desa semakin terancam dengan patroli-patroli Belanda yang terkenal selalu membawa maut itu.

Strategi penyerangan mempunyai target gudang senjata. Tapi ada satu hal menjadi dilema, yaitu ketika nanti gudang senjata itu hancur. Markas besar pasukan Belanda pasti tidak tinggal diam. Suara ledakan dan laporan komunikasi radio pasti akan mengundang pasukan besar musuh. Oleh karena itu Kakek Budi membuat strategi jitu yang sangat beresiko. Sebagian besar regunya memang diarahkan untuk menghancurkan gudang senjata … tapi diamenyelinap sendiri, memanjat atap pos, tak lain untuk menurunkan bendera Belanda. Suatu strategi yang melibatkan pertimbangan psikologis. Bendera adalah lambang kejayaan dan otoritas pendudukan suatu wilayah. Jika Sang Merah Putih sudah berkibar, maka musuh akan berpikir dua kali untuk membalas serangan. Hal ini akan memberi cukup waktu bagi gerak besar pasukan RI untuk maju dalam kekuatan penuh.

Membawa bendera merah putih sendiri tidaklah mungkin, satu-satunya jalan adalah menurunkan kemudian merobek warna birunya. Berpacu dengan waktu dan kesempatan, beberapa tentara belanda penjaga berhasil dilumpuhkan. Tepat sesuai perhitungan gudang senjata berhasil diserbu dan diledakkan. Namun sayang, gerakan Kakek Budi diatas atap terlihat tentara belanda yang tersisa. Mereka memburu. Kakek Budi sudah berhasil menurunkan bendera mera-putih-biru saat itu. Namun pada detik kritis ia tertembak. Dengan tenaga tersisa, dengan semangat merdeka atau mati ia masih berusaha merobek warna biru. Lalu, dengan merangkak berhasil juga Sang Merah Putih berkibar di atas atap. Kedaulatan RI berhasil dikembalikan di wilayah itu.

Regu gerilyawan RI memang akhirnya berhasil juga melumpuhkan tentara belanda yang tersisa. Pekik kemenangan bergema, seiring tangis keharuan gugurnya seorang bunga bangsa. Perjuangan yang selalu dibayar dengan pengorbanan. Benarlah bahwa Sang Merah Putih bukanlah bendera biasa, karena kebesaran namanya memiliki sejarah panjang perjuangan dengan darah, derita, dan cucuran air mata sebelum dapat berkibar gagah seperti sekarang di penjuru negeri.

“Nah Budi begitu ceritanya ..” ada nada terisak dalam suara mama.

Budi kecil terdiam. Ia membayangkan jika dulu hanya untuk mengibarkan Bendera Merah Putih, kakeknya harus berkorban nyawa, mengapa ia masih harus mengeluh hanya untuk sekedar mencuci. Padahal tinggal celup air sabun dan besok bendera itu akan cemerlang gagah di angkasa raya.

Kain bendera itu akhirnya selesai dibilas.
” Biar aku saja Ma yang menjemurnya .. ” Budi menyeret kursi lalu dengan gagah menaikinya, membentang kain bendera dengan tangan mungilnya, dijepit, dan ia serahkan pada panas sang surya untuk mengeringkan basah cucian bendera bersejarah itu.

Mama kini mulai bangga. malam harinya Budi sangat bersemangat menyetrika dan melipat bendera itu dengan bantuan Mama demikian juga dengan sepatu, baju dan perlengkapan upacara lainnya.

Keesokan harinya,
” Doakan aku supaya tidak mengecewakan perjuangan kakek ya , Ma ! “

Mama melambaikan tangan, air matanya menitik, dalam hatinya ia berdoa ..
” Ya Tuhanku .. semoga Engkau bimbing anakku agar dapat menjadi penerus perjuangan kakeknya di kemudian hari nanti ..”

About barifbrave

Bismillah, Rising Star Moslem Legend, Amin

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Tulisan

Arsip per Bulan

Masukkan alamat e-mail Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui e-mail.

Join 1,985 other followers

%d bloggers like this: