BKKMTKI, Organisasi

Sang Bumi Ruwa Jurai(1)


Assalamulaikum w.w.

Bismillah hi Rahman ni Rahim

Sahabat, pada hari ini saya ingin berbagi pengalaman dengan Sahabat. So, bac baik-baik y siapa tahu bermanfaat amin.

Pada tanggal 25 Oktober 2009 pukul 21.30 aku, Mb. Miya, dan Mas Kiki dari T. Kimia Undip berangkat ke Lampung untuk menunaikan tugas dari Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HMTK) Undip S1 mengikuti Munas-X Badan Koordinasi Kegiatan Mahasiswa Teknik Kimia Indonesia (BKKMTKI) di Universitas Lampung (Unila). Dari Semarang kami naik kereta ekonomi yang sangat amat padat sampai kaki pun enggan diselonjorkan (diluruskan). Selain itu, di kereta juga sering lalu-lalang penjual makanan, minuman dan penjual lin yang tak menghiraukan ada orang-orang yang duduk di sepanjang lorong kereta karena tidak mendapat tempat duduk disebabkan penuhnya penumpang.

Sebelum nik kereta, ada sedikit penglaman yang unik. Aku minta tolong temanku untuk diantar di Stasiun Poncol, tetapi dia mengantarkanku di Stsiun Tawang. Setelah dia meninggalkanku, aku belum sadar kalau aku salah tempat.

“Mas, aku sudah sampai di Poncol ni.”

“Sebelah mana?”

“Di depan Loket”

“Loket yang mana? Aku juga di depan loket.”

“Di depan loket yang ada hadiah mobilnya.”

“Kamu di stasiun mana?”

“Poncol, Mas.”

“Salah Kamu. Kamu pasti di Tawang, coba kmu cek lagi.”

– – – – – – – – –

“He he he. Iya mas, Saya salah tempat. Saya di Tawang.”

“Y udah kamu ke sini saja sekarang.”

“OK d.”

Sampai aku telpon Mas Kiki dan baru setelah telpon itu ku sadar bahwa kita berada di dua setasiun yang berbeda. Akhirnya terwujud juga keinginanku naik taxi di Semarang. Aku ke stasiun Poncol naik taxi, Blue Bird lagi. ha ha ha.😀 . Setelah membeli tiket dan menunggu Mb. Miya, kami pun menunggu kereta sekitar 20 menit dn berngkatlah kita ke Lampung.

Dari berangkat sampai menjelang di Stasiun Senin, kami duduk di lorong kereta. Kami baru bisa duduk di tempat yang layak setelah sampai di Bekasi. Aku ingat pada waktu itu aku menengok ke arah kiriku ada SPBU milik Shel dan ada tulisan “Bekasi” seketika itupun aku istirahatkan badanku di kursi kereta.

Samapai di Stasiun Senin, kami sarapan di Stasiun. Ternyata di sana makanan sungguh amat mahal. Pecel 10 ribu dan nasi rames 15 ribu. Ternyata benar bahwa “Ibu kota lebih kejm daripada ibu tiri”. Y… sudah tidak perlu disesali supaya pecel itu tidak jadi tulang, tetapi jadi daging. Setelah makan, kami mandi dan beres-beres sebentar kemudian menuju Terminal Kali Deres dengan naik Trans Jakarta. Akhirnya terwujud juga keinginanku naik Trans Jakata. Angkutan ini sangat murah. Hanya dengan Rp.10.500 kita dapat samapai di Terminal Kali Deres yang jauh denagan harga murah dn relatif cepat.

Mulai dari sanalah kami bertemu dengan para calo kurang ajar (maaf) yang nantinya akan menambah pengalamanku di luar Jawa. Kami menolak ajakan para calo itu dan lebih memilih naik Arimbi ke Merak. Kami hanya mengeluarkan Rp.22.500 per orang untuk dapat smpai ke Merak. Dari Merak kami naik kapal dengan biaya Rp. 10.000 per orang. Sebelum naik kapal, kami berfoto-foto dahulu di Pelabuhan. Walaupun dengan wajah yang penuh peluh dan miyak tak menghalangi kami untuk narsis.😀

Akhirnya terwujud juga keinginanku naik kapal menembus selat. Di kapal naluri narsisnya Mb. Miya kembali menyala dan kami pun mengambil beberpa foto di sana. Baik dengan latar kapal atau pulau yang ada di hadapan kami. Di sana kami juga dihibur dengan film yang tidak bermutu, tetapi cukuplah untuk sedikit meredakan lelah setelah 10 jam naik kereta ekonomi. Akhirnya baru di kapal inilah aku bisa shalat subuh, dzuhur dan ashar. Untuk kali ini aku benar-benar tidak tahu fikih Shalat. Yang aku tahu hanya jamak ashar dengan dzuhur. Untuk Subuh, Waallah hu alam.

Di Kapal, kami bertemu dengan calo lagi. Dia menawarkan 25 ribu untuk sampai di Raja Basa, tetapi hanya bulan belaka karena kenyatannya kami hanya di turunkan di perempatan sebelum Raja Basa (semoga Allah membalas dengan blasan yang setimpal). Berhubung kami tidak tahu harus naik bus apa setelah ini, kami ikuti jakannya. Hampir saja kalau Mas Kiki tidak mengejarnya uang kami akan hilang karena setelah dia dapat uang, dia keluar dari bus. Setelah Mas Kiki kejar, dia kembali ke bus dan keluar lagi sesaat setelah bus kelur dari kapal.

Selama perjalanan menuju perjalanan ke Raja Basa, Mb. Miya marah-marah sama Mas Kiki dan aku, tetapi marahnya reda setelah mobil kijang warna biru milik panitia membawa kami ke tempat penginapan di Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Bandar Lampung. Sesampainya di penginapan, kami beres-beres, makan, dn kemudian langsung sidang😀 membiasakan diri menjadi mhasiswa yang kuat dan itu terbukti selama persidangan karena hanya daerah 3 lah yang delegasinya selalu ada sampai persidangan usai.

About barifbrave

Bismillah, Rising Star Moslem Legend, Amin

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Tulisan

Arsip per Bulan

Masukkan alamat e-mail Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui e-mail.

Join 1,985 other followers

%d bloggers like this: