Sastra

Senapan Kata


Assalamualaikum w.w.

Bismillah hi Rahman ni Rahim

Sahabat, dua minggu yang lalu saya ikut lomba esai dan hari ini saya lihat pengumumannya dan ternyata saya belum mendapat rezeki sebagai pemenangnya dan keinginan saya mendapat laptop tertunda, tetapi tidak mengapa yang penting saya sudah ikut. Lebih baik bergerak daripada diam dan semoga esai di bawah ini dapat bermanfaat bagi Sahabat yang membaca dan tolong diberikan komentarnya semoga dengan ini dapat mengganti kekecewaan saya. Amin. Selamat membaca.

Tiga ratus lima puluh tahun yang lalu, Indonesia dijajah Belanda dan Jepang. Tidak satu pun dari mereka yang baik kepada Indonesia. Mereka semua menguras habis harta Indonesia. Tidak hanya menguras habis harta, mereka juga merampas kehormatan Indonesia. Belanda merampas kehormatan Indonesia dengan membiarkan kebodohan tetap meraja lela di nusantara. Jepang merampas kehormatan Indonesia dengan menjadikan wanita-wanita peribumi sebagai juppun ian fu (pelayan nafsu bejat tentara Jepang). Selain itu, mereka juga merampas kehormatan Indonesia dengan membiarkan rakyat peribumi hidup tanpa busana.

Setelah merdeka selama 64 tahun, nampaknya Indonesia belum juga bisa bangkit, melangkah, dan berlari menyongsong kemajuan dan kejayaan. Negara ini start lebih awal daripada Vietnam, Malaysia, dan negara-negara ASEAN lainnya. Negara ini juga start bersamaan dengan Jepang setelah dihancurleburkan oleh sekutu, tetapi sekarang mereka sudah menjadi negara maju sedangkan Indonesia masih berkembang dan berkembang saja. Berkembang warganya, berkembang korupsinya, dan berkembang keburukan-keburukan lainnya.

Mari kita coba bayangkan, bagaimana jika para pahlawan negara ini, detik ini juga dibangkitkan kembali oleh Allah SWT. Apa yang akan mereka lakukan kepada kita? Apa yang akan mereka katakan kepada kita? Apakah para pahlawan kita bangga akan perilaku kita sekarang? Akankah para pahlawan tersenyum bangga melihat kondisi negara kita sekarang?

Jika kita membaca sejarah perjuangan para pahlawan kita, kita akan terenyuh dan merinding. Mereka yang hanya berbekal senjata seadanya didorong semangat dan keyakinan untuk ikhlas mengorbankan jiwa, raga, dan hartanya hanya untuk kemerdekaan orang-orang yang akan datang setelah mereka, hanya untuk kemerdekaan kita, untuk kemerdekaan kita. Sudahkah apa yang kita lakukan sekarang sebanding dengan pengorbanan para pahlawan kita?

Marilah kita lihat kondisi negara kita tercinta ini. Suka / tidak suka, mau / tidak mau, kita harus jujur terhadap diri kita sendiri bahwa beginilah kondisi kita sekarang ini, kemiskinan meraja lela, budaya asing ditelan mentah-mentah, korupsi “dilegalkan” untuk siapa saja, busung lapar dimana-mana, dan gizi buruk melanda desa-desa. Apakah kondisi seperti ini yang kita inginkan? Apakah Indonesia seperti ini yang dahulu para pahlawan kita idam-idamkan?

Siapapun kita, apapun profesi kita, darimanapun asal daerah kita, kita harus prihatin terhadap kondisi yang sekarang melanda negara kita tercinta ini. Bagaimana bentuk keprihatinan kita atas kondisi negara kita? Apakah kita harus menyesal karena telah dilahirkan di negara yang seperti ini? Apakah kita harus mengumpat kepada mereka-mereka yang bertanggung jawab atas kondisi ini? Atau apakah kita hanya bisa bersedih dan berendah diri atas kondisi ini? Keprihatinan kita dapat kita wujudkan melalui pola pikir kita, tutur kata kita, dan gerak langkah kita.

Sekarang ini, Indonesia sudah sangat terkenal akan korupsinya dan kemiskinannya. Melihat kondisi ini, masih banggakah kita dilahirkan di tanah air ini? Jika kita merasa prihatin atas apa yang menimpa negara kita ini, tentunya kita tidak akan mempedulikan apa yang sekarang terjadi di negara ini. Kita akan tetap bangga dilahirkan di Indonesia. Jika wajah kita memerah akibat ulah para orang-orang di sana yang mencitrakan Indonesia dengan citra yang buruk, dada kita harus tetap kita kembanggakan dengan apa yang Indonesia berikan dan simpan untuk kita. Lewat Indonesia, Allah telah memberikan rahmatnya berupa alam yang indah, tanah yang subur, laut yang kaya, minyak dan tambang tersimpan di perut bumi kita, juga orang-orang yang ramah dan bersahaja. Sudah seharusnya kita selalu memikirkan apa yang telah Indonesia berikan dan simpan untuk kita sehingga kita dapat melangkah terus maju dengan mengesampingkan pencitraan Indonesia sekarang ini.

Belum cukup kita hanya berbangga diri atas kekayaan dan keindahan yang Indonesia berikan kepada kita. Jika kita hanya berbangga diri, itu hanya akan mengurangi kebencian kita sendiri, tidak untuk orang lain. Oleh karena itu, kita harus lisankan dan tuliskan apa yang kita banggakan dari Indonesia. Jika kebanggan kepada Indonesia hanya ada dalam otak kita, itu hanya bermanfaat bagi kita. Ketika apa yang ada dalam otak kita, kita lisankan maka minimal seluruh orang Indonesia akan memahaminya. Sedangkan ketika kita juga menuliskannya maka seluruh dunia akan memahaminya, akan mengetahui dan meyakini bahwa Indonesia adalah tempat terkaya dan terindah yang pernah singgah di dunia ini.

Setelah kita setting pikiran kita untuk mencintai Indonesia, setelah kita suarakan dan cetak apa yang ada dalam pikiran kita, ada satu hal lagi yang perlu kita lakukan sebagai wujud keprihatinan kita. Satu hal itu adalah mencintai produk dalam negeri. Belum tentu orang yang telah memikirkan kebaikan Indonesia lantas mereka akan serta-merta mencintai produk dalam negeri karena mereka tetap mencari kenyamanan atas apa yang mereka makan dan kenakan. Oleh karena itu, latihlah diri kita untuk mencintai produk kita sendiri karena jika kita tidak mencintai produk kita sendiri, apa yang telah kita usahakan akan sia-sia belaka. Selain itu, dampak positif dari mencintai produk dalam negeri adalah kita dapat mengurangi kemiskinan di negera kita sendiri. Coba bayangkan jika kita lebih suka membeli produk luar maka uang kita hanya akan lari ke luar dan merekalah yang lebih diuntungkan daripada kita sendiri.

Dari hal di atas lah, pola pikir kita, tutur kata kita, dan perilaku kita, keprihatinan kita kepada negara kita dapat diwujudkan. Ketika kita prihatin akan suatu keburukan maka kita akan mencoba dengan segenap daya upaya untuk memperbaikinya minimal dari diri kita sendiri. Dengan demikian bukan suatu yang mustahil jika Indonesia yang sekarang muram dapat kita rubah menjadi ceria dengan keprihatinan kita kepadanya. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Jepang yang pernah hancur lebur bisa menjadi negara terkaya ke-3 setelah Amerika Serikat dan Jerman. Vietnam yang pada saat kita sudah merdeka mereka masih dibantai oleh Amerika Serikat, sekarang mereka sudah lebih maju daripada kita. Sedangkan negara kita dahulu adalah penguasa dunia. Kerajaan Majapahit pernah memiliki kekuasaan sampai Madagaskar, Filipina, dan Selandia Baru. Akankah hanya karena dijajah selama kurang dari tiga ratus lima puluh tahun kita lantas kehilangan jati diri kita sebagai penguasa dunia dan berputus asa atas apa yang menimpa kita sekarang ini? Masih ada harapan untuk merubah wajah Indonesia.

Harapan itu masih ada. Harapan itu akan selalu ada pada tangan mereka yang mencintai Indonesia. Harapan itu akan terwujud di tangan orang-orang yang memiliki nasionalisme dalam hati mereka yang tercermin dalam ucapan dan gerak langkah mereka seperti mencintai produk kita, mempertahankan keamanan, dan memajukan pendidikan dan teknologi kita. Nasionalisme bukan sekadar kata bukan pula sekadar selogan, tetapi nasionalisme adalah perbuatan.

Nasionalisme adalah harga mati bagi kita yang merasa berhutang budi kepada para pahlawan kita. Namun demikian, nasionalisme disesuaikan dengan kemampuan kita. Jika kita seorang pelajar, nasionalisme kita adalah belajar dengan giat dan tekun dan jujur dalam setiap ujian. Kejujuran adalah sesuatu yang paling mahal di negara kita tercinta sekarang ini. Tidak bisa dianggap sepele masalah kejujuran ini. Jika dari hal yang kecil – misalkan ujian – kita sudah memulai untuk tidak jujur, maka kita akan terbiasa dan tumbuh dalan kebiasaan tidak jujur yang akhirnya akan menjadikan kita seorang koruptor. Seorang koruptor kelas kakap berawal dari seorang siswa kelas teri yang terbiasa tidak jujur dalam mengerjakan soal-soal ujiannya. Percuma jika semua koruptor di negara kita ini kita pisahkan lehernya dari badannya, sedangkan para pahlawan tanpa tanda jasa kita tidak mendidik kita untuk jujur dalam setiap ujian yang mereka berikan maka koruptor di negara ini akan tetap ada, hanya berganti wajah. Jika kita seorang pendidik, nasionalisme kita adalah keikhlasan kita dalam mendidik tunas-tunas muda pewaris Indonesia. Jika kita seorang pengusaha, nasionalisme kita adalah membayar pajak tepat pada waktunya dan menghasilkan barang yang bermanfaat bagi Indonesia. Jika kita seorang tentara, nasionalisme kita pastilah tidak lain dan tidak bukan adalah menjaga kedaulatan wilayah kita dan mempertahankan keamanan. Jika kita seorang aktris atau aktor, nasionalisme kita adalah memberikan contoh yang baik dalam setiap adegan kita dan keseharian kita karena kita seorang public figure dimana konsekuensi dari seorang public figure adalah tereksposenya apapun yang kita kerjakan. Jika kita seorang pemuka agama, nasionalisme kita adalah menjaga kerukunan antar umat beragama.

Jika nasionalisme boleh berkembang, jika peluru boleh berganti sepenggal kata, dan jika senapan boleh berwujud blog / website maka nasionalisme yang paling tepat pada jaman ini adalah nasionalisme berbasis IT. Jika Deddy Mizwar berpesan dalam sebuah film, Jika Ismail Marzuki berpesan dalam lantunan bait, maka kita dapat mengikuti jejak mereka dengan berpesan lewat untain kata dan paduan gambar dalam blog / web. Kita tentu tidak akan lupa dengan apa yang pernah Saudara kita, Malaysia lakukan kepada kita, “mencuri” budaya kita. Mengapa mereka bisa dengan tenang “mencuri” budaya kita? Karena kita tidak pernah mempublikasikannya. Oleh karena itu, sebagaimana yang telah saya katakan di atas, setelah kita setting pikiran kita, kita kumandangkan dan kita cetak apa yang ada dalam pikiran kita. Sudah saatnya kita kumandangkan keindahan Indonesia lewat blog / web. Kita dapat menuliskan profil setiap provinsi yang ada di Indonesia dengan keunikan budaya mereka sendri-sendiri sehingga tidak akan ada lagi yang mencuri budaya kita. Kita juga dapat menulis tentang flora dan fauna khas Indonesia dan juga tempat-tempat yang memesona dari Sabang samapai Merauke. Selain blog / web, facebook juga bisa menjadi ajang bagi kita untuk menunjukkan nasionalisme kita, bagaimana caranya? Kita bisa menulis apa yang telah saya sebutkan di atas dalam note sehingga teman-teman kita dapat membacanya. Kita juga dapat mendirikan group sebagai tempat diskusi tentang kondisi Indonesia hari ini dan sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang. Sudah saatnya kita gunakan apa saja yang ada di sekitar kita untuk memajukan Indonesia sebagaimana dahulu para pejuang menggunakan apa saja yang ada di sekitar mereka untuk memerdekakan Indonesia.

Lebih dari itu, yang paling utama dari sebuah nasionalisme yang semua orang harus memilikinya adalah mengenal Indonesia yang tercermin dalam wawasan kenegaran kita yang meliputi wilayah geografis dan astronomis, mencintai Indonesia yang tercermin dalam kesadaran kita untuk mejaga kebersihan lingkungan sekitar kita terlebih masalah sampah. Kita harus membiasakan diri kita untuk membuang sampah pada tempatnya dan membiasakan lingkungan kita bebas sampah. Selain itu, mencintai Indonesia juga harus diwujudkan dalam kecintaan kita pada budaya kita dan kekuatan kita untuk menyaring budaya asing serta hafal lagu-lagu kebangsaan kita minimal “Indonesia Raya”. Kemudian kita juga harus memperbaiki Indonesia dengan cara membiasakan diri untuk memiliki akhlak yang mulia seperti jujur dan amanat. Yang terakhir, kita harus memajukan Indonesia sebagai bentuk nasionalisme kita dengan jalan rajin, tekun, dan ulet di dalam mencari ilmu dan memepelajarinya serta rajin, ulet, dan tekun di dalam bekerja sehingga kita dapat mengurangi kemiskinan di negara kita.

Semoga Indonesia masih memiliki orang-orang yang berjiwa nasionalisme sehingga harapan untuk suatu perubahan , perbaikan, dan kejayan akan selalu ada. Jaya Bangsaku, Jaya negeriku. Merdeka!!!

About barifbrave

Bismillah, Rising Star Moslem Legend, Amin

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Tulisan

Arsip per Bulan

Masukkan alamat e-mail Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui e-mail.

Join 1,985 other followers

%d bloggers like this: