Tauhid

Bawalah Imanmu ke Pasar


Assalamualaikum w.w.

Bismillah hi Rahman ni Rahim

Sahabat, apa kabar? Bagaimana kondisi keimanan Sahabat? Bagaimana Ramadhan Sahabat tahun ini? Semoga tambah berkah. Amin

Pada kesempatan kali ini, insya allah saya akan sedikit menyampaikan sesuatu mengenai iman. Iman menurut bahasa berarti “Percaya”. Dalam agama Islam, Iman ada enam, yaitu : Iman kepada Allah, Kepada Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat, dan Qadha dan Qadar.

Iman laksana rem pada kendaraan. Ketika kita tidak sengaja hendak menabrak sesuatu, rem dapat berfungsi sebagai alat penyelamat bagi kita. Demikian juga iman, ketika panca indra kita meraba maksiat, iman kita akan mengatakan TIDAK dan menghentikan apa yang hendak kita lakukan. Misalnya ketika kita jalan-jalan di suatu tempat, kita melihat penjual es buah yang sangat segar, padahal kita sedang berpuasa, tetapi hari itu begitu panas dan kerongkongan sudah sangat kering selain itu hanya ada dua orang di sana, kita dan penjual es buah itu. Nah, ketika iman kita kuat, iman kita akan mengatakan “Ingatlah kamu masih berpuasa, menjaga haus itu lebih mulia,” (misalnya) dan kemudian niat pandangan kita akan berpaling dari penjual es buah itu.

Penerapan

Masalah iman ini bukanlah masalah sepele. Iman adalah hubungan antara hati kita dan pikiran kita yang kemudian akan menggerakkan anggota tubuh kita. Pada masa TK dan SD kita sering ditanya oleh guru kita “Ada berapa rukun iman, Anak-anak?” Lanttas kita menjawab enam Bu Guru. Kemudian Sang Guru meminta kepada kita untuk menyebutkannya satu per satu. Lebih tinggi lagi, ketika kita SMP dan SMA, iman ini diujikan pada ujian Pendidikan Agama Islam yang kebanyakan siswa mendapatkan nilai 90 bahkan 100. Akan tetapi, apakah ini penerpan iman yang sebenarnya. Iman bukanlah materi yang hanya tertulis di atas kertas. Iman itu materi yang harus kita yakini dalam hati, kita ikrarkan dengan lisan, dan kita amalkan dengan tindakan kita, al imanu atasdiqum bil qolbi, wa ikrarum bil lisani, wa amalum bil arkan. Bagaimanakah penerapan iman yang sebenarnya?

Sebagaimana dalil naqli di atas, iman haruslah menjadi nafas kita dengan kata lain harus selalu menjadi dasar dari setiap tindakan kita. Jika iman sudah menjadi nafas kita, maka insya Allah tidak akan ada alagi korupsi di negara kita tercinta ini. Amin. Akan tetapi apakah penerapannya sesederhana kalimat saya di atas? Terkadang para pejabat meninggalkan imannya di lemari sembari berkata “Man, Kamu tinggal di lemari saja, kalau Kamu ikut saya, saya tidak bisa korupsi.” atau pedagang yang tidak membawa imannya ke pasar, “Man, Kamu tinggal di laci saja, kalau kamu ikut timbanganku tidak bisa curang” atau bahkan pelajar yang sengaja meninggalkan imannya di bawah kasur, “Man, Kamu tidur saja terus di kasur, kalau Kamu ikut, aku tidak bisa mencontek.” dan masih banyak kasus lainnya. Sebenarnya masalahnya sedemikian sederhana, apakah kita mau menjadikan iman sebagai nafas kita dalam setiap derap lagkah kita? Itu saja. Tidak perlu dibuat susah. Apakah berat? Jika berat belajarlah!!!

Semoga kita tergolong orang-orang yang bernafaskan iman. Amin

About barifbrave

Bismillah, Rising Star Moslem Legend, Amin

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Tulisan

Arsip per Bulan

Masukkan alamat e-mail Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui e-mail.

Join 1,985 other followers

%d bloggers like this: