Sastra

DPT “Kisruh”, Hak Pilih Lenyap


Assalamualaikum w.w.

Bismillah hi rahman ni rahim

Besok adalah hari yang dinanti-nanti oleh utamanya para calon presiden dan para tim sukses mereka tentunya. Apakah rakyat juga menanti esok pagi mentari kembali bersua di setiap jendela rumah mereka?

Dalam 1 X 24 jam kemarin telah terjadi perubahan yang sangat besar dalam pesta demokrasi negara kita yang telah dinanti-nantikan selama ini. Siapakah yang menang tidak penting. Yang penting adalah bagaimana yang menang itu akan menegakkan keadilan sebagaiman keadilan yang telah ditegakkan MA dengan keputusannya yang menyatakan bahwa WNI baik dalam maupun luar negeri yang belum terdaftar dalam DPT dapat ikut memilih dengan menggunakan KTP dan memilih ditempat dimana KTP tersebut diterbitkan. Akan tetapi apakah keputusan ini benar-benar adil dan dapat mengatasi kekisruhan DPT?

Dua hari ini alhamdulillah saya merasakan bagaimana rumitnya mengurusi DPT. Kemarin saya mendapatkan satu bendel surat mencontreng dari Kepala Departemen Kebijakan Publik BEM FT KM Undip 2009, Rizki Syawal. Hanya ada sekitar 30 surat undangan untuk mahasiswa jurusan teknik kimia. Padahal mahasiswa jurusan teknik kimia yang mendaftar untuk memilih di Tembalang ada sekitar 90 lebih dari angkatan 2008 sampai 2005. Tadi pagi, setelah ujian ISBD, aku membagikannya kepada teman-teman yang terdaftar. Aku bingung menjawab keluhan teman-teman yang telah mendaftar, tetapi tidak mendapatkan surat undangan dan tidak terdafatar dalam Daftar Pemilih Tambahan (DPTb). Aku merasa iba kepada mereka, tetapi aku belum memiliki pengalaman masalah ini dan aku juga bingunggung karana aku seakan tidak memiliki kewenangan atas hal ini. Stelah semua aku bagikan, kami bersama-sama ke PKM Teknik untuk mengoreksi daftar DPTb yang ada di PKM dengan harapan kemarin saya kurang teliti dan mungkin ada dari surat undangan mereka terselip atau mereka memang terdaftar, tetapi tidak mendapat surat undangan. Dengan sangat menyesal, ternyata mereka yang tidak mendapatkan surat undangan, memang tidak terdaftar dan mereka lebih menyesal karena mereka tidak dapat berpartisipasi dalam pesta demokrasi negara ini karena rumah mereka jauh (Jabodetabek, jawa barat, jawa timur, dan luar jawa). Dengan perasaan kecewa, mereka meninggalkan PKM dan seditik menggerutu tentang kinerjaku (yang sebenarnya aku memang tidak berwenang dalam hal ini).

Dari kisah di atas, saya menemukan beberapa pertanyaan. Pertanyaan pertama adalah apakah kebijakan MK yang kemarin di putuskan benar-banar memberi keadilan bagi seluruh rakyat dan warga negara Indonesia? Pertanyaan kedua adalah mengapa antara pihak pemerintah dan Undip (atau jika melihat kisah saya, dalam hal ini pihak jurusan teknik kimia) tidak ada saling koordinasi yang menyebabkan banyak mahasiswa yang kehilangan hak pilihnya? Pertanyaan ketiga adalah apakah di negeri ini keadilan benar-benar tidak dapat dinikmati oleh seluruh warganya?

About barifbrave

Bismillah, Rising Star Moslem Legend, Amin

Discussion

2 thoughts on “DPT “Kisruh”, Hak Pilih Lenyap

  1. sistemik kah ini?
    hati2..

    Posted by romailprincipe | July 10, 2009, 9:48 pm
    • Waallah hu alam. Yang Jelas kasihan temen-temenku. Pada G nyontreng kemarin. Kata pihak penanggung jawabnya datanya tidak valid. Padahal mereka sudah menyerahkan fotocopy KTP dan KTM. Y mungkin belum rejeki mereka X Y.

      Posted by barifbrave | July 10, 2009, 10:12 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kategori Tulisan

Arsip per Bulan

Masukkan alamat e-mail Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui e-mail.

Join 1,985 other followers

%d bloggers like this: