Sang Bumi Ruwa Jurai(1)

Assalamulaikum w.w.

Bismillah hi Rahman ni Rahim

Sahabat, pada hari ini saya ingin berbagi pengalaman dengan Sahabat. So, bac baik-baik y siapa tahu bermanfaat amin.

Pada tanggal 25 Oktober 2009 pukul 21.30 aku, Mb. Miya, dan Mas Kiki dari T. Kimia Undip berangkat ke Lampung untuk menunaikan tugas dari Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HMTK) Undip S1 mengikuti Munas-X Badan Koordinasi Kegiatan Mahasiswa Teknik Kimia Indonesia (BKKMTKI) di Universitas Lampung (Unila). Dari Semarang kami naik kereta ekonomi yang sangat amat padat sampai kaki pun enggan diselonjorkan (diluruskan). Selain itu, di kereta juga sering lalu-lalang penjual makanan, minuman dan penjual lin yang tak menghiraukan ada orang-orang yang duduk di sepanjang lorong kereta karena tidak mendapat tempat duduk disebabkan penuhnya penumpang.

Sebelum nik kereta, ada sedikit penglaman yang unik. Aku minta tolong temanku untuk diantar di Stasiun Poncol, tetapi dia mengantarkanku di Stsiun Tawang. Setelah dia meninggalkanku, aku belum sadar kalau aku salah tempat.

“Mas, aku sudah sampai di Poncol ni.”

“Sebelah mana?”

“Di depan Loket”

“Loket yang mana? Aku juga di depan loket.”

“Di depan loket yang ada hadiah mobilnya.”

“Kamu di stasiun mana?”

“Poncol, Mas.”

“Salah Kamu. Kamu pasti di Tawang, coba kmu cek lagi.”

- – - – - – - – -

“He he he. Iya mas, Saya salah tempat. Saya di Tawang.”

“Y udah kamu ke sini saja sekarang.”

“OK d.”

Sampai aku telpon Mas Kiki dan baru setelah telpon itu ku sadar bahwa kita berada di dua setasiun yang berbeda. Akhirnya terwujud juga keinginanku naik taxi di Semarang. Aku ke stasiun Poncol naik taxi, Blue Bird lagi. ha ha ha. :D . Setelah membeli tiket dan menunggu Mb. Miya, kami pun menunggu kereta sekitar 20 menit dn berngkatlah kita ke Lampung.

Dari berangkat sampai menjelang di Stasiun Senin, kami duduk di lorong kereta. Kami baru bisa duduk di tempat yang layak setelah sampai di Bekasi. Aku ingat pada waktu itu aku menengok ke arah kiriku ada SPBU milik Shel dan ada tulisan “Bekasi” seketika itupun aku istirahatkan badanku di kursi kereta.

Samapai di Stasiun Senin, kami sarapan di Stasiun. Ternyata di sana makanan sungguh amat mahal. Pecel 10 ribu dan nasi rames 15 ribu. Ternyata benar bahwa “Ibu kota lebih kejm daripada ibu tiri”. Y… sudah tidak perlu disesali supaya pecel itu tidak jadi tulang, tetapi jadi daging. Setelah makan, kami mandi dan beres-beres sebentar kemudian menuju Terminal Kali Deres dengan naik Trans Jakarta. Akhirnya terwujud juga keinginanku naik Trans Jakata. Angkutan ini sangat murah. Hanya dengan Rp.10.500 kita dapat samapai di Terminal Kali Deres yang jauh denagan harga murah dn relatif cepat.

Mulai dari sanalah kami bertemu dengan para calo kurang ajar (maaf) yang nantinya akan menambah pengalamanku di luar Jawa. Kami menolak ajakan para calo itu dan lebih memilih naik Arimbi ke Merak. Kami hanya mengeluarkan Rp.22.500 per orang untuk dapat smpai ke Merak. Dari Merak kami naik kapal dengan biaya Rp. 10.000 per orang. Sebelum naik kapal, kami berfoto-foto dahulu di Pelabuhan. Walaupun dengan wajah yang penuh peluh dan miyak tak menghalangi kami untuk narsis. :D

Akhirnya terwujud juga keinginanku naik kapal menembus selat. Di kapal naluri narsisnya Mb. Miya kembali menyala dan kami pun mengambil beberpa foto di sana. Baik dengan latar kapal atau pulau yang ada di hadapan kami. Di sana kami juga dihibur dengan film yang tidak bermutu, tetapi cukuplah untuk sedikit meredakan lelah setelah 10 jam naik kereta ekonomi. Akhirnya baru di kapal inilah aku bisa shalat subuh, dzuhur dan ashar. Untuk kali ini aku benar-benar tidak tahu fikih Shalat. Yang aku tahu hanya jamak ashar dengan dzuhur. Untuk Subuh, Waallah hu alam.

Di Kapal, kami bertemu dengan calo lagi. Dia menawarkan 25 ribu untuk sampai di Raja Basa, tetapi hanya bulan belaka karena kenyatannya kami hanya di turunkan di perempatan sebelum Raja Basa (semoga Allah membalas dengan blasan yang setimpal). Berhubung kami tidak tahu harus naik bus apa setelah ini, kami ikuti jakannya. Hampir saja kalau Mas Kiki tidak mengejarnya uang kami akan hilang karena setelah dia dapat uang, dia keluar dari bus. Setelah Mas Kiki kejar, dia kembali ke bus dan keluar lagi sesaat setelah bus kelur dari kapal.

Selama perjalanan menuju perjalanan ke Raja Basa, Mb. Miya marah-marah sama Mas Kiki dan aku, tetapi marahnya reda setelah mobil kijang warna biru milik panitia membawa kami ke tempat penginapan di Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Bandar Lampung. Sesampainya di penginapan, kami beres-beres, makan, dn kemudian langsung sidang :D membiasakan diri menjadi mhasiswa yang kuat dan itu terbukti selama persidangan karena hanya daerah 3 lah yang delegasinya selalu ada sampai persidangan usai.

Senapan Kata

Assalamualaikum w.w.

Bismillah hi Rahman ni Rahim

Sahabat, dua minggu yang lalu saya ikut lomba esai dan hari ini saya lihat pengumumannya dan ternyata saya belum mendapat rezeki sebagai pemenangnya dan keinginan saya mendapat laptop tertunda, tetapi tidak mengapa yang penting saya sudah ikut. Lebih baik bergerak daripada diam dan semoga esai di bawah ini dapat bermanfaat bagi Sahabat yang membaca dan tolong diberikan komentarnya semoga dengan ini dapat mengganti kekecewaan saya. Amin. Selamat membaca.

Tiga ratus lima puluh tahun yang lalu, Indonesia dijajah Belanda dan Jepang. Tidak satu pun dari mereka yang baik kepada Indonesia. Mereka semua menguras habis harta Indonesia. Tidak hanya menguras habis harta, mereka juga merampas kehormatan Indonesia. Belanda merampas kehormatan Indonesia dengan membiarkan kebodohan tetap meraja lela di nusantara. Jepang merampas kehormatan Indonesia dengan menjadikan wanita-wanita peribumi sebagai juppun ian fu (pelayan nafsu bejat tentara Jepang). Selain itu, mereka juga merampas kehormatan Indonesia dengan membiarkan rakyat peribumi hidup tanpa busana.

Setelah merdeka selama 64 tahun, nampaknya Indonesia belum juga bisa bangkit, melangkah, dan berlari menyongsong kemajuan dan kejayaan. Negara ini start lebih awal daripada Vietnam, Malaysia, dan negara-negara ASEAN lainnya. Negara ini juga start bersamaan dengan Jepang setelah dihancurleburkan oleh sekutu, tetapi sekarang mereka sudah menjadi negara maju sedangkan Indonesia masih berkembang dan berkembang saja. Berkembang warganya, berkembang korupsinya, dan berkembang keburukan-keburukan lainnya.

Mari kita coba bayangkan, bagaimana jika para pahlawan negara ini, detik ini juga dibangkitkan kembali oleh Allah SWT. Apa yang akan mereka lakukan kepada kita? Apa yang akan mereka katakan kepada kita? Apakah para pahlawan kita bangga akan perilaku kita sekarang? Akankah para pahlawan tersenyum bangga melihat kondisi negara kita sekarang?

Jika kita membaca sejarah perjuangan para pahlawan kita, kita akan terenyuh dan merinding. Mereka yang hanya berbekal senjata seadanya didorong semangat dan keyakinan untuk ikhlas mengorbankan jiwa, raga, dan hartanya hanya untuk kemerdekaan orang-orang yang akan datang setelah mereka, hanya untuk kemerdekaan kita, untuk kemerdekaan kita. Sudahkah apa yang kita lakukan sekarang sebanding dengan pengorbanan para pahlawan kita?

Marilah kita lihat kondisi negara kita tercinta ini. Suka / tidak suka, mau / tidak mau, kita harus jujur terhadap diri kita sendiri bahwa beginilah kondisi kita sekarang ini, kemiskinan meraja lela, budaya asing ditelan mentah-mentah, korupsi “dilegalkan” untuk siapa saja, busung lapar dimana-mana, dan gizi buruk melanda desa-desa. Apakah kondisi seperti ini yang kita inginkan? Apakah Indonesia seperti ini yang dahulu para pahlawan kita idam-idamkan?

Siapapun kita, apapun profesi kita, darimanapun asal daerah kita, kita harus prihatin terhadap kondisi yang sekarang melanda negara kita tercinta ini. Bagaimana bentuk keprihatinan kita atas kondisi negara kita? Apakah kita harus menyesal karena telah dilahirkan di negara yang seperti ini? Apakah kita harus mengumpat kepada mereka-mereka yang bertanggung jawab atas kondisi ini? Atau apakah kita hanya bisa bersedih dan berendah diri atas kondisi ini? Keprihatinan kita dapat kita wujudkan melalui pola pikir kita, tutur kata kita, dan gerak langkah kita.

Sekarang ini, Indonesia sudah sangat terkenal akan korupsinya dan kemiskinannya. Melihat kondisi ini, masih banggakah kita dilahirkan di tanah air ini? Jika kita merasa prihatin atas apa yang menimpa negara kita ini, tentunya kita tidak akan mempedulikan apa yang sekarang terjadi di negara ini. Kita akan tetap bangga dilahirkan di Indonesia. Jika wajah kita memerah akibat ulah para orang-orang di sana yang mencitrakan Indonesia dengan citra yang buruk, dada kita harus tetap kita kembanggakan dengan apa yang Indonesia berikan dan simpan untuk kita. Lewat Indonesia, Allah telah memberikan rahmatnya berupa alam yang indah, tanah yang subur, laut yang kaya, minyak dan tambang tersimpan di perut bumi kita, juga orang-orang yang ramah dan bersahaja. Sudah seharusnya kita selalu memikirkan apa yang telah Indonesia berikan dan simpan untuk kita sehingga kita dapat melangkah terus maju dengan mengesampingkan pencitraan Indonesia sekarang ini.

Belum cukup kita hanya berbangga diri atas kekayaan dan keindahan yang Indonesia berikan kepada kita. Jika kita hanya berbangga diri, itu hanya akan mengurangi kebencian kita sendiri, tidak untuk orang lain. Oleh karena itu, kita harus lisankan dan tuliskan apa yang kita banggakan dari Indonesia. Jika kebanggan kepada Indonesia hanya ada dalam otak kita, itu hanya bermanfaat bagi kita. Ketika apa yang ada dalam otak kita, kita lisankan maka minimal seluruh orang Indonesia akan memahaminya. Sedangkan ketika kita juga menuliskannya maka seluruh dunia akan memahaminya, akan mengetahui dan meyakini bahwa Indonesia adalah tempat terkaya dan terindah yang pernah singgah di dunia ini.

Setelah kita setting pikiran kita untuk mencintai Indonesia, setelah kita suarakan dan cetak apa yang ada dalam pikiran kita, ada satu hal lagi yang perlu kita lakukan sebagai wujud keprihatinan kita. Satu hal itu adalah mencintai produk dalam negeri. Belum tentu orang yang telah memikirkan kebaikan Indonesia lantas mereka akan serta-merta mencintai produk dalam negeri karena mereka tetap mencari kenyamanan atas apa yang mereka makan dan kenakan. Oleh karena itu, latihlah diri kita untuk mencintai produk kita sendiri karena jika kita tidak mencintai produk kita sendiri, apa yang telah kita usahakan akan sia-sia belaka. Selain itu, dampak positif dari mencintai produk dalam negeri adalah kita dapat mengurangi kemiskinan di negera kita sendiri. Coba bayangkan jika kita lebih suka membeli produk luar maka uang kita hanya akan lari ke luar dan merekalah yang lebih diuntungkan daripada kita sendiri.

Dari hal di atas lah, pola pikir kita, tutur kata kita, dan perilaku kita, keprihatinan kita kepada negara kita dapat diwujudkan. Ketika kita prihatin akan suatu keburukan maka kita akan mencoba dengan segenap daya upaya untuk memperbaikinya minimal dari diri kita sendiri. Dengan demikian bukan suatu yang mustahil jika Indonesia yang sekarang muram dapat kita rubah menjadi ceria dengan keprihatinan kita kepadanya. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Jepang yang pernah hancur lebur bisa menjadi negara terkaya ke-3 setelah Amerika Serikat dan Jerman. Vietnam yang pada saat kita sudah merdeka mereka masih dibantai oleh Amerika Serikat, sekarang mereka sudah lebih maju daripada kita. Sedangkan negara kita dahulu adalah penguasa dunia. Kerajaan Majapahit pernah memiliki kekuasaan sampai Madagaskar, Filipina, dan Selandia Baru. Akankah hanya karena dijajah selama kurang dari tiga ratus lima puluh tahun kita lantas kehilangan jati diri kita sebagai penguasa dunia dan berputus asa atas apa yang menimpa kita sekarang ini? Masih ada harapan untuk merubah wajah Indonesia.

Harapan itu masih ada. Harapan itu akan selalu ada pada tangan mereka yang mencintai Indonesia. Harapan itu akan terwujud di tangan orang-orang yang memiliki nasionalisme dalam hati mereka yang tercermin dalam ucapan dan gerak langkah mereka seperti mencintai produk kita, mempertahankan keamanan, dan memajukan pendidikan dan teknologi kita. Nasionalisme bukan sekadar kata bukan pula sekadar selogan, tetapi nasionalisme adalah perbuatan.

Nasionalisme adalah harga mati bagi kita yang merasa berhutang budi kepada para pahlawan kita. Namun demikian, nasionalisme disesuaikan dengan kemampuan kita. Jika kita seorang pelajar, nasionalisme kita adalah belajar dengan giat dan tekun dan jujur dalam setiap ujian. Kejujuran adalah sesuatu yang paling mahal di negara kita tercinta sekarang ini. Tidak bisa dianggap sepele masalah kejujuran ini. Jika dari hal yang kecil – misalkan ujian – kita sudah memulai untuk tidak jujur, maka kita akan terbiasa dan tumbuh dalan kebiasaan tidak jujur yang akhirnya akan menjadikan kita seorang koruptor. Seorang koruptor kelas kakap berawal dari seorang siswa kelas teri yang terbiasa tidak jujur dalam mengerjakan soal-soal ujiannya. Percuma jika semua koruptor di negara kita ini kita pisahkan lehernya dari badannya, sedangkan para pahlawan tanpa tanda jasa kita tidak mendidik kita untuk jujur dalam setiap ujian yang mereka berikan maka koruptor di negara ini akan tetap ada, hanya berganti wajah. Jika kita seorang pendidik, nasionalisme kita adalah keikhlasan kita dalam mendidik tunas-tunas muda pewaris Indonesia. Jika kita seorang pengusaha, nasionalisme kita adalah membayar pajak tepat pada waktunya dan menghasilkan barang yang bermanfaat bagi Indonesia. Jika kita seorang tentara, nasionalisme kita pastilah tidak lain dan tidak bukan adalah menjaga kedaulatan wilayah kita dan mempertahankan keamanan. Jika kita seorang aktris atau aktor, nasionalisme kita adalah memberikan contoh yang baik dalam setiap adegan kita dan keseharian kita karena kita seorang public figure dimana konsekuensi dari seorang public figure adalah tereksposenya apapun yang kita kerjakan. Jika kita seorang pemuka agama, nasionalisme kita adalah menjaga kerukunan antar umat beragama.

Jika nasionalisme boleh berkembang, jika peluru boleh berganti sepenggal kata, dan jika senapan boleh berwujud blog / website maka nasionalisme yang paling tepat pada jaman ini adalah nasionalisme berbasis IT. Jika Deddy Mizwar berpesan dalam sebuah film, Jika Ismail Marzuki berpesan dalam lantunan bait, maka kita dapat mengikuti jejak mereka dengan berpesan lewat untain kata dan paduan gambar dalam blog / web. Kita tentu tidak akan lupa dengan apa yang pernah Saudara kita, Malaysia lakukan kepada kita, “mencuri” budaya kita. Mengapa mereka bisa dengan tenang “mencuri” budaya kita? Karena kita tidak pernah mempublikasikannya. Oleh karena itu, sebagaimana yang telah saya katakan di atas, setelah kita setting pikiran kita, kita kumandangkan dan kita cetak apa yang ada dalam pikiran kita. Sudah saatnya kita kumandangkan keindahan Indonesia lewat blog / web. Kita dapat menuliskan profil setiap provinsi yang ada di Indonesia dengan keunikan budaya mereka sendri-sendiri sehingga tidak akan ada lagi yang mencuri budaya kita. Kita juga dapat menulis tentang flora dan fauna khas Indonesia dan juga tempat-tempat yang memesona dari Sabang samapai Merauke. Selain blog / web, facebook juga bisa menjadi ajang bagi kita untuk menunjukkan nasionalisme kita, bagaimana caranya? Kita bisa menulis apa yang telah saya sebutkan di atas dalam note sehingga teman-teman kita dapat membacanya. Kita juga dapat mendirikan group sebagai tempat diskusi tentang kondisi Indonesia hari ini dan sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang. Sudah saatnya kita gunakan apa saja yang ada di sekitar kita untuk memajukan Indonesia sebagaimana dahulu para pejuang menggunakan apa saja yang ada di sekitar mereka untuk memerdekakan Indonesia.

Lebih dari itu, yang paling utama dari sebuah nasionalisme yang semua orang harus memilikinya adalah mengenal Indonesia yang tercermin dalam wawasan kenegaran kita yang meliputi wilayah geografis dan astronomis, mencintai Indonesia yang tercermin dalam kesadaran kita untuk mejaga kebersihan lingkungan sekitar kita terlebih masalah sampah. Kita harus membiasakan diri kita untuk membuang sampah pada tempatnya dan membiasakan lingkungan kita bebas sampah. Selain itu, mencintai Indonesia juga harus diwujudkan dalam kecintaan kita pada budaya kita dan kekuatan kita untuk menyaring budaya asing serta hafal lagu-lagu kebangsaan kita minimal “Indonesia Raya”. Kemudian kita juga harus memperbaiki Indonesia dengan cara membiasakan diri untuk memiliki akhlak yang mulia seperti jujur dan amanat. Yang terakhir, kita harus memajukan Indonesia sebagai bentuk nasionalisme kita dengan jalan rajin, tekun, dan ulet di dalam mencari ilmu dan memepelajarinya serta rajin, ulet, dan tekun di dalam bekerja sehingga kita dapat mengurangi kemiskinan di negara kita.

Semoga Indonesia masih memiliki orang-orang yang berjiwa nasionalisme sehingga harapan untuk suatu perubahan , perbaikan, dan kejayan akan selalu ada. Jaya Bangsaku, Jaya negeriku. Merdeka!!!

Tips Sehat ala….Rasulullah

1. SELALU BANGUN SEBELUM SUBUH

Rasul selalu mengajak ummatnya untuk bangun sebelum subuh, melaksanakan sholat sunah dan sholat Fardhu,sholat subuh berjamaah.

Hal ini memberi hikmah yg mendalam antara lain :

- Berlimpah pahala dari Allah
- Kesegaran udara subuh yg bagus utk kesehatan/ terapi penyakit TB
- Memperkuat pikiran dan menyehatkan perasaan

2. AKTIF MENJAGA KEBERSIHAN
Rasul selalu senantiasa rapi & bersih, tiap hari kamis atau Jum’at beliau mencuci rambut-rambut halus di pipi, selalu memotong kuku, bersisir dan berminyak wangi. “Mandi pada hari Jumaat adalah wajib bagi setiap orang-orang dewasa. Demikian pula menggosok gigi dan memakai harum-haruman” (HR Muslim)

3.TIDAK PERNAH BANYAK MAKAN

Sabda Rasul :
“Kami adalah sebuah kaum yang tidak makan sebelum lapar dan bila kami makan tidak terlalu banyak (tidak sampai kekenyangan) “(Muttafaq Alaih)
Dalam tubuh manusia ada 3 ruang untuk 3 benda :
Sepertiga untuk udara, sepertiga untuk air dan sepertiga lainnya untuk makanan.Bahkan ada satu tarbiyyah khusus bagi ummat Islam dengan adanya
Puasa Ramadhan untuk menyeimbangkan kesehatan

4. GEMAR BERJALAN KAKI
Rasul selalu berjalan kaki ke Masjid, Pasar, medan jihad, mengunjungi rumah sahabat, dan sebagainya. Dengan berjalan kaki, keringat akan mengalir,pori- pori terbuka dan peredaran darah akan berjalan lancar. Ini penting untuk mencegah penyakit jantung

5. TIDAK PEMARAH
Nasihat Rasulullah : “Jangan Marah”diulangi sampai 3 kali. Ini menunujukkan hakikat kesehatan dan kekuatan Muslim bukanlah terletak pada jasadiyah belaka, tetapi lebih jauh yaitu dilandasi oleh kebersihan dan kesehatan jiwa.

Ada terapi yang tepat untuk menahan marah :
- Mengubah posisi ketika marah, bila berdiri maka duduk, dan bila duduk maka berbaring
- Membaca Ta ‘awwudz, karena marah itu dari Syaithon
- Segeralah berwudhu
- Sholat 2 Rokaat untuk meraih ketenangan dan menghilangkan kegundahan hati

6. OPTIMIS DAN TIDAK PUTUS ASA
Sikap optimis akan memberikan dampak psikologis yang mendalam bagi kelapangan jiwa sehingga tetap sabar, istiqomah dan bekerja keras, serta tawakal kepada Allah SWT

7. TAK PERNAH IRI HATI
Untuk menjaga stabilitas hati & kesehatan jiwa, mentalitas maka menjauhi
iri hati merupakan tindakan preventif yang sangat tepat. ::Ya Allah,bersihkanlah hatiku dari sifat sifat mazmumah dan hiasilah diriku dengan sifat sifat mahmudah…: :

sumber : http://www.islamic-center.or.id

MEWASPADAI DATANGNYA MUSIBAH LAIN

[Al-Islam 475] Sudah lebih dari sepekan lalu ‘Gempa Sumatra’ terjadi. Korban tewas akibat gempa berkekuatan 7.6 skala ritcher itu terus bertambah. Berdasarkan data dari Satkorlak Penanggulangan Bencana Sumatera Barat (4/10), korban tewas berjumlah 603 orang. Kemungkinan korban tewas bisa mencapai 1.000 orang. Korban luka-luka juga terus mengalami peningkatan; yang luka berat sebanyak 412 orang dan luka ringan sebanyak 2.093 orang. Adapun korban yang mengungsi sebanyak 736 orang (Republika Online, 4/10/2009).

Namun, Pemerintah seperti tidak mau belajar. Seperti sudah menjadi kebiasaan, penanganan korban gempa oleh Pemerintah selalu terlambat. Buktinya, meski ribuan orang selamat, sebagiannya—terutama para pengungsi—tetap menderita. Pasalnya, meski telah enam hari pasca gempa, distribusi bantuan gempa terkesan lamban, padahal akses jalan ke sejumlah kabupaten dan kecamatan telah lancar. Akibatnya, sebagian besar korban gempa kini mulai mengaku kelaparan. Menurut warga, jangan bantuan sembako, tenda plastik darurat untuk berteduh pun tidak mereka dapatkan. Jika kondisi ini berlanjut, bukan tidak mungkin nasib yang lebih buruk akan menimpa mereka, terutama anak dan balita. “Jangankan susu bubuk untuk bayi, beras pun belum pernah kami terima walau hanya satu kilogram. Kalau terus begini, bayi kami bisa kelaparan dan meninggal dunia,” keluh Siswandi warga Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman (5/10). “Biarlah rumah kami hancur diterjang gempa, yang penting anak-anak kami selamat…,” keluh Ibu Aisah yang mempunyai balita usia dua tahun (Detiknews, 5/10/2009).

Pemerintah Harus Bertindak Cepat

Seorang Muslim tentu memiliki kewajiban untuk menolong dan membantu saudara-saudaranya yang sedang ditimpa kesulitan, termasuk akibat gempa. Jamaah, organisasi massa dan partai Islam juga memiliki tanggung jawab yang sama, bahkan lebih besar. Namun demikian, tanggung jawab terbesar sesungguhnya ada di pundak Pemerintah sebagai pengurus, pelayan dan pelindung rakyat. Pemerintah semestinya memiliki departemen atau direktorat khusus penanggulangan bencana yang senantiasa stand by dalam menangani bencana dan korbannya.

Dalam Khilafah Islam, pendanaan untuk penanggulangan bencana diambilkan dari pos pendapatan fai’, kharaj dan harta pemilikian umum (lihat: Abdul Qadim Zallum, Sistem Keuangan di Negara Khilafah, hlm. 18). Jika kas Baitul Mal sedang kosong maka Khalifah sebagai kepala negara menghimbau rakyat kaum Muslim untuk mengulurkan bantuan uang maupun barang. Jika uluran bantuan rakyat tidak mencukupi, negara bisa menarik pajak khusus untuk penanggulangan bencana kepada para wajib pajak. Dengan demikian, negara akan segera dapat mengatasi masalah tersebut dengan cepat tanpa harus kekurangan dana.

Sabar Menghadapi Musibah dan Keutamaannya

Musibah/bencana seperti gempa memang pasti menimbulkan penderitaan. Namun demikian, bagi seorang Muslim, di balik musibah sesungguhnya ada keutamaan, tentu jika musibah itu disikapi dengan kesabaran. Keutamaan yang dimaksud antara lain:

1. Terhapusnya dosa dan kesalahan.

Nabi saw. bersabda, sebagaimana dituturkan Abu Hurairah ra.:

«مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ»

Tidak ada penyakit, kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang Mukmin hinggga duri yang menusuknya melainkan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu (HR al-Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis lain Nabi saw. bersabda:

«مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ»

Cobaan senantiasa akan menimpa seorang Mukmin dan Mukminah—baik menimpa dirinya, anaknya maupun hartanya—hingga ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa (HR at-Tirmidzi).

2. Memperoleh pahala dan keridhaan Allah.

Anas ra. meriwayatkan sebuah hadis secara marfû’, “Sesungguhnya besarnya pahala bergantung pada besarnya cobaan. Jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya dengan cobaan. Siapa saja yang ridha atas cobaan tersebut maka dia mendapat keridhaan Allah

3. Mendorong untuk ber-taqarrub dan banyak beribadah kepada Allah SWT.

Betapa banyak Muslim yang setelah ditimpa musibah terdorong untuk ber-taqarrub kepada Allah dan berdoa/beribadah kepada-Nya, yang semua itu tak pernah ia lakukan sebelum tertimpa musibah (QS Fushilat [41]: 51).

4. Merupakan indikasi bahwa Allah menghendaki kebaikan.

Rasulullah saw. bersabda:

«مَنْ يُرِدْ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ»

Siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya (HR al-Bukhari).

Selain itu, orang-orang yang sabar dalam menghadapi musibah akan mendapatkan shalawat dan rahmat dari Allah SWT (QS Ali Imran [33: 155-157; diberi pahala tanpa batas (QS); akan selalu bersama Allah (QS al-Baqarah [2]: 153), dan Allah mencintainya (QS Ali Imran [3]; 146).

Lebih dari Sekadar Sabar

Lebih dari sekadar keharusan untuk bersabar, dalam menghadapi musibah ini selayaknya setiap Muslim hendaknya:

1. Iman dan ridha terhadap ketentuan (takdir) Allah.

Allah SWT berfirman:

]مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ[

Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (QS al-Hadid [57]: 22).

2. Memperbanyak berdoa dan berzikir kepada Allah SWT.

Rasulullah saw. mengajarkan doa bagi orang yang tertimpa musibah:

«اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا»

Ya Allah, berilah aku pahala karena musibah yang menimpaku ini, dan berilah ganti bagiku yang lebih baik daripadanya (HR Ahmad).

Selain berdoa, berzikir akan dapat menenteramkan hati (QS ar-Ra’du [13] : 28).

3. Tetap berikhtiar.

Mengimani takdir bukan berarti tidak berikhtiar. Saat terjadi wabah penyakit di Syam, Umar bin al-Khaththab segera berupaya keluar dari negeri tersebut. Ketika ditanya, ”Apakah kamu hendak lari dari takdir Allah?” Umar menjawab, ”Ya, aku lari dari takdir Allah untuk menuju takdir-Nya yang lain.”

Rasulullah saw. pun memberikan petunjuk bahwa segala bahaya (madarat) wajib untuk dihilangkan. Misalnya logistik, tempat tinggal, masjid dan sekolah yang hancur harus diupayakan kembali keberadaannya. Dalam hal ini, tanggung jawab Pemerintah sangatlah besar.

4. Bertobat.

Adakalanya musibah yang menimpa adalah akibat dari dosa yang diperbuat manusia (QS asy-Syura [42]: 30). Karena itu, sudah seharusnya seseorang yang terkena musibah segera bertobat kepada Allah SWT dengan tobat yang sebenar-benarnya. Nabi saw. bersabda:

«كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ»

Setiap anak Adam adalah pendosa. Sebaik-baik pendosa adalah orang yang suka bertobat (HR at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad dan ad-Darimi).

5. Tetap Istiqamah dalam Islam.

Dalam setiap musibah, selalu ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkannya untuk tujuan jahat. Misalnya kristenisasi. Caranya adalah dengan memberikan bantuan logistik, medis, uang, rumah dan sebagainya. Semua itu tidaklah diberikan dengan tulus, melainkan ada maksud keji di baliknya. Ujung-ujungnya, orang-orang kafir itu ingin sekali memurtadkan orang Islam. Di sinilah seorang Muslim dituntut untuk bersikap istiqamah (QS Hud [11] : 112).

Mewaspadai Datangnya Musibah Lain

Nabi saw., sebagaimana penuturan Ibn Umar ra., pernah mewanti-wanti kita terkait dengan kemungkinan datangnya sejumlah musibah/bencana (lain) yang menghampiri kita. Beliau bersabda:

«خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلاَّ فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَاْلأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلاَفِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلاَّ أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلاَّ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللهُ إِلاَّ جَعَلَ اللهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ»

Ada lima perkara (yang harus kalian waspadai)—aku berlindung kepada Allah, jangan sampai hal itu menimpa kalian: 1. Tidaklah kekejian (perzinaan) muncul pada suatu kaum dan mereka melakukannya secara terang-terangan, kecuali akan muncul berbagai wabah dan berbagai penyakit yang belum pernah terjadi pada orang-orang sebelum mereka. 2. Tidaklah suatu kaum berbuat curang dalam hal timbangan dan takaran (jual-beli), melainkan mereka akan diazab dengan paceklik, kesusahan hidup dan kezaliman penguasa. 3. Tidaklah suatu kaum enggan membayar zakat, melainkan mereka akan dicegah dari turunnya hujan dari langit; jika bukan karena binatang ternak, niscaya hujan itu tidak akan diturunkan. 4. Tidaklah para pemimpin mereka melanggar penjanjian Allah dan Rasul-Nya, kecuali Alah akan menjadikan musuh menguasai mereka, lalu merampas sebagian yang ada dari apa yang ada di tangan mereka. 5. Tidaklah mereka meninggalkan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, melainkan Allah menjadikan perselisihan di antara mereka (HR Ibnu Majah).

Peringatan Baginda Nabi saw. ini semestinya menjadikan kita khawatir dan takut. Karena itu, kelima perkara yang diisyaratkan dalam hadis ini wajib harus dihindari. Perzinaan harus segera diberantas sampai ke akar-akarnya (bukan malah dilokalisasi dan dipelihara); ekonomi curang harus segera ditinggalkan (termasuk segala transaksi yang didasarkan pada ekonomi kapitalis seperti perbankan ribawi, bursa saham dan valas, utang luar negeri, privatisasi BUMN, dll); zakat harus segera ditunaikan; perjanjian dengan Allah dan Rasul-Nya tidak boleh dilanggar; dan hukum-hukum Allah yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah harus segera diterapkan oleh negara. Jika tidak, berarti kita sedang menantang datangnya musibah yang lebih dahsyat, sebagaimana diisyaratkan Baginda Nabi saw. di atas. Jika demikian, betapa sombong dan bodohnya kita. Wal ‘iyâdzu billâh!

sumber : http://hizbut-tahrir.or.id

Menang Lomba!!!

Assalamualaikum w.w.

Bismillah hi Rahman ni Rahim

Sahabat, akhirnya aku bisa kembali mengenang masa kejayaanku selama SMA dan dapat menghilangkan kejenuhan kuliah di Teknik Kimia Undip. Sebenarnya aku butuh sedikit hiburan saja karena selain akhir-akhir ini aku masih mengalami dilema sehingga kebutuhan akan hiburan itu semakin menggebu-gebu dan akhirnya hari ini tersalurkan. Alhamdulillah.

Apkah hiburan itu?

Hiburan itu adalah debat!

Aku bersama Fanni Fatah dan Buna Rizal Rahman berhasil mendapat peringkat ke-dua dalam debat Bahasa Indonesia yang diadakan Undip dalam rangka dies natalis sekaligus sebagai seleksi di tingkat Undip untuk mencari tim yang layak mengikuti lomba tingkat jawa yang masih dalam rangka dies natalis Undip yang ke-52.

Apa yang aku dapatkan hari ini secara garis besar juga pernah aku dapatkan saat di SMA dalam forum yang sama, debat Bahasa Indonesia. Aku jadi ingat akan pesan-pesan yang disampaikan oleh Bu Endang selaku dewan juri dan kakak-kakak kelas yang mengajari aku debat. Orang-orang yang patut bangga atas pencapaianku ini, selain orang tua adalah kakak-kakak kelasku dahulu di SMA yang mengenalkanku dan mengajariku debat. Mereka adalah Aditiari Ike Putri dan Pradana Putra Ramadhan.

Ada catatan besar yang aku dapatkan dari lomba debat ini. Beberapa diantaranya adalah :

1. Format debat kali ini sama dengan format debat calon presiden yang sering kita saksikan di televisi pada pilkada lalu.

2. Kelebihan debat ini adalah tidak memiliki mosi yang spesifik (pada debat tadi hanya memiliki tema : Kontroversi UU BHP)sehingga peserta dapat leluasa menyusun pidato yang akan disampaikan pada forum debat berbeda dengan debat yang sebenarnya yang memiliki mosi yang spesifik sehingga kita tidak dapat leluasa menyusun pidato.

3. Pada debat pagi sampai siang tadi, yang disoroti hanya dua point yaitu penguasaan materi dan komunikasi yang kita gunakan.

4. Pada debat tadi hanya menguji penguasaan materi tentang UU BHP.

5. Argumen yang keluar dari setiap otak yang ada di debat tadi kurang diutamakan sebagaimana debat pada umumnya.

Selain catatan besar di atas, ada pesan yang Allah sampaikan lewat debat tadi kepadaku. Pesan itu adalah :

1. Aku harus memperbaiki cara bicaraku (lebih samtai, tenang, cermat, senyum).

2. Aku hanya akan mendapat sesuai dengan apa yang aku usahakan.

3. Syukur

4. Ikhlas

Terima Kasih ya Allah Engkau benar-benar menyayangiku. Tida klausa selain Subahannallah wal hamdulillah wallah hu Akbar.

FB Emoticon

Kalo Sahabat suka chating melalui facebook, pasti kita suka ngerasa kalo chat di facebook itu agak kurang asik, soalnya chatting di facebook gak ada smileys otomatis nya kaya di yahoo messenger, kalo yahoo kan udah ada smileys nya berupa icon dan gambar smileys udah gitu banyak juga lagi smileys (emoticon) nya.

Kalo kalian tau, Sebetulnya facebook juga ada smiley nya juga loh, tapi smileys yang ada di facebook mesti kita ketik kode nya secara manual, Nah, kalo ada yang mau chatting di facebook dengan kode smileys bisa menggunakan kode-kode di bawah ini.

(^^^) 

:) :( :P :D :O ;) 8) 8| >:( : :’( 3:)

O:) :-* <3 ^_^ -_- O.o >:o :v :3 :| ] :putnam:

Semoga Chatingan kita makin asyik.

sumber : http://hasiaulia.net

Hidup Bukan untuk Cinta, tetapi Cinta untuk Hidup

Assalamualaikum w.w.

Bismillah hi Rahman ni Rahim

Setelah aku jauh melangkah, setelah dua gunung aku lalui. Aku bertemu banyak  bunga dan kumbang. Mereka ada yang ramah juga ada yang pemarah. Walaupun demikian mereka semua memberi aku sebuah nasihat tentang kehidupan.

Setelah aku sampai pada suatu karang di tepi laut, kulihat kembali perjalanan masa lampau. Kulihatlagi dua gunung yang telah aku lalaui. Ku lihat lagi elang yang masih menyeruak memanggilku untuk menyemangatiku. Ku juga masih melihat kuntul-kuntul yang tebang dalam suatu formasi yang mengingatkanku akan suatu kelompok yang telah mengantarkanku sampai ke karang ini. Tak terasa kakiku ini telah jauh melangkah, jauh hingga dua gunung dapat terlamapaui. Walau aku pernah ikut “SWARA” (Pelantikan Bantara anggota Pramuka 01.20/23), tetapi aku belum pernah melangkah sejauh ini. Samapai jauhnya hingga tak kukenali lagi tempat ini, tempat di mana sekarang aku duduk termenung.

Aku masih juga termenung dan aku di sadarkan oleh deburan ombak yang  mengantarkan nelayan kembali ke daratan dengan sinar mentari yang semakin menipis diganikan cahaya bulan dan bintang. Aku tersadar dan aku tanya pada diriku sendiri “Dimanakah aku sekarang? Dimana?”.

Ku lihat disekelilingku orang-orang yang tak ku kenal. Aku mau bertanya tetapi aku malu pada diriku sendiri, tetapi jika tidak bertanya aku tidak tahu jalan pulang. Lantas ku lihat ada dua sosok wanita hendak kembali ke rumah dari menjaring ikan. Sangat aneh, tetapi begitulah adanya.

“Maaf, boleh saya bertanya?”

“Iya, silakan”

“Mba, hendak ke mana? Bisa tunjukkan saya tempat untuk beristirahat?”

“Mari, silakan ikut saya.”

Sambil berjalan mengikuti dua wanita itu, aku berbincang dengan mereka menanyakan mengapa mereka menjaring ikan, tidak menunggu suami mereka berlabuh dan mengapa pula mereka tidak di rumah memasak untuk makan malam suami mereka. Mereka hanya menjawab “Ini adalah suatu perubahan. Zaman sudah mengeluarkan kami dari rumah kami dan inilah pilihan kami. Kami orang pesisir maka kami menjaring ikan.” Akhirnya sampai aku di rumah mereka. Setelah makan malam, aku melanjutkan cerita.

“Mba saya telah melewati dua gunung dan sampai di tempat ini.”

“Mengapa Engkau berjalan hingga sejauh itu?”

“Aku tak tahu. Aku tersadar ketika sudah sampai di tempat ini.”

“Engaku orang yang bodoh.”

“Mengapa?”

“Engkau tidak dapat memperjalankan kakimu ke tempat yang sudah digariskan untukmu.”

“Aku tidak tahu, aku hanya tersesat.”

“Jangan bersembunyi di balik kelemahan mu.” “Kamu seorang laki-laki. Kamu harus kuat”. “Ada yang tertinggal di belakang mu?”

“Tidak.”

“Bodoh!”

“Masihkah kau tidak ingat jasa makhluk di antara dua gunung itu? Sudah lupakah kau denagn kumbang yang melantunkan nyanyian untukmu? Sudahkah kau lupa akan bunga yang memberimu madu?

“Astaghfirullah.”

“Kau ingin tahu apa nama temapt ini?”

“Iya”

“Tempat ini bernama “Cinta”?”

Mendengar nama tempat dimana aku tersesat, aku meneteskan air mata. Ternyata selama ini aku tersesat dalam cinta. Cinta yang awalnya tulus berubah menjadi jalan terjal dan berliku yang membawaku sampai ke tempat ini. Ternyata, selama ini hidupku hanya untuk sebuah cinta yang hanya mengantarku sampai di tempat ini, tempat yang indah, tetapi hanya sementara waktu karena jika dua gunung itu meletus, lenyaplah tempat ini.

“Bagaiman aku bisa pulang?”

“Kau takkan bisa pulang!”

“Jadi aku akan mati di tempat ini?”

“Kau tidak pernah belajar!” “Mengapa kau harus mati di tempat ini?” “Kau bisa sampai di sini mengapa kau takut tak bisa kembali?”

“Kalau begitu tunjukan aku jalan pulang?”

“Tak bisa!” “Kami tak bisa tunjukimu jalan pulang. Hanya kau sendiri yang dapat menemukannya, tapi kami bisa beritahu apa nama jalan untuk kau pulang.”

“Apa namanya?”

“Ikhlas”